Monday, March 26, 2012

Kemiskinan di Kab. Kotabaru - Pulau Laut Barat. Kecamatan Lontar

Kemarin malam pukul 20.30 WITA, saya dipanggil ke rumah pasien yang letaknya tidak jauh dari Puskesmas Lontar, tmpat saya bertugas sebagai dokter PTT. Hanya sekitar 100 meter dari belakang kompleks Rumah Dinas. Ditemani oleh seorang Apoteker yang sekaligus menjabat sebagai Plt.Ka.Puskesmas Perawatan Lontar, akhirnya kita berangkat menuju rumah si pasien.

Dari anamsese yang saya lakukan, maka DS/ saya adalah Tumor Ganas Hodgkin dan ada sedikit kecurigaan ke arah Nasofaring Carcinoma. Tapi saya tidak begitu yakin dengan Diagnosa Sementara yang saya berikan, diakibatkan minimnya informasi yang saya dapatkan dari pasien sendiri maupun keluarga pasien.
Pasien tersebut sudah tidak dapat berbicara, maupun menelan makanan akibat benjolan di sekitar leher bagian bawah telinga kanan, dan hal ini sudah dialami selama 1 bulan lebih sehingga si pasien menjadi kurus kering dan terbaring lemas karena tidak makan selama 1 bulan lebih.
Mata kanan juga sudah tidak dapat melihat dan menonjol keluar dan suara nafas pada paru-paru kanan menjadi lebih redap jika dibandingkan dengan paru kiri. Apakah hanya sekedar gejala klinis ataupun komplikasi, tapi besar kecurigaan saya sel kanker sudah menyebar ke mata kanan dan paru kanan.

Saya sarankan kepada keluarga pasien agar si pasien di Rujuk ke RSUD Kotabaru untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, tapi sebelumnya kita rawat dulu di puskesmas untuk memperbaiki keadaan umum si pasien agar selama dalam perjalanan ke Kotabaru, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah kita pasang infus, saya dan perawat menyarankan untuk mempersiapkan barang-barang yang diperlukan selama di Kotabaru. Karena keluarga pasien menyatakan bahwa mereka tidak punya uang dan tidak mampu secara finansial untuk membawa si pasien ke RSUD Kotabaru, maka kita dari pihak Puskesmas, menyarankan untuk mempergunakan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) sebagai prasyarat sebelum mendapatkan perawatan di RSUD Kotabaru, serta kelengkapan lainnya seperti KTP dan Kartu Keluarga.

Saat berembuk di ruang tunggu, saya mendengar sepertinya keluarga pasien sedikit keberatan pasien di rujuk untuk mendapat penanganan lebih lanjut di RSUD Kotabaru dikarenakan permasalahan biaya transportasi, makan dan keperluan lain selama di RS. Akan tetapi kami memberikan kesempatan kepada keluarga pasien untuk berunding dan besok pagi harus sudah ada keputusan. Sebelumnya saya menegaskan kepada keluarga pasien bahwa kami (Puskesmas Lontar), bukan bermaksud mengusir pasien, tetapi ingin agar si pasien mendapatkan penanganan lebih lanjut secepatnya. Dan jikalaupun keluarga pasien menolak untuk di Rujuk Ke RSUD Kotabaru dan memilih untuk tetap di rawat di Puskesmas Lontar, kami juga tidak bisa menolak dan dengan terpaksa keluarga pasien harus menandatangani Surat Penolakan Rujukan dan kami pun akan merawat si pasien dengan fasilitas dan peralatan seadanya.

Pukul 03.20 WITA dini hari, saya dibangunkan keluarga pasien, katanya selang infusnya lepas dan mengeluarkan darah. Saya segera ke Puskesma dan memeriks keadaan selang infus. Ternyata selang infus telah telah tersumbat bekuan darah dan tidak dapat dipergunakan lagi, terpaksa selang infus saya lepas beserta dengan abocate nya.
Lalu saya ingin memasang infus baru, tapi sebelumnya saya meminta ijin lebih dulu kepada pihak keluarga pasien. Namun keluarga pasien tidak bersedia dan memilih untuk pulang pada saat itu juga dangan alasan, sudah agak baikan dan tidak bisa tidur nyenyak di Ruang Perawatan serta kendala keuangan yg tidak memungkinkan untuk di Rujuk ke RSUD Kotabaru. Karena dalam keadaan mengantuk berat dan tidak ingin berdebat dengan keluarga pasien, akhirnya saya pun mengijinkan si pasien untuk dibawa pulang dengan berpesan sebelumnya, kalau ada apa-apa segera datang ke Puskesmas.

Rasanya kesal, marah dan ingin berteriak. Sepertinya semua yang kita lakukan sia-sia. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan terhadap si pasien di rumah. Apakah dibiarkan begitu saja atau diberikan pengobatan tradisional (Ramuan-ramuan lengkap dengan jampi-jampi nya) sayapun tidak tahu. Kira-kira apakah mereka akan tersinggung jika saya mencoba untuk mencari tahu..!!! Tapi itu semua kita kembalikan kepada si pasien dan keluarganya. Meskipun si pasien ingin sekali agar segera dibawa ke RSUD Kotabaru, tapi karena terbaring lemah dan tidak berdaya, dia pun hanya bisa pasrah dengan keputusan yang diambil oleh keluarganya.

Beberapa hal yang saya tangkap dari sini adalah, keluarga terlalu cepat menyerah terhadap kemiskinan tanpa berusaha lebih dahulu.
Miris sekali memang....!!! Di tanah Borneo yang kaya ini. Kaya akan hasil tambang, hasil hutan dan sumberdaya kelautan yang tidak terbatas ini, masih banyak kemiskinan dan kebodohan yang membelenggu rakyat bangsa kita.

Saturday, March 24, 2012

The New Beginning

Catatan ini akan berisi pengalaman-pengalaman saya selama melaksanakan tugas sebagai dokter PTT Pusat di Kecamatan Lontar, kab.Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Banyak pengalaman-pengalaman yang seharusnya saya abadikan dalam catatan ini. Meski sedikit terlambat untuk menuliskannya dalam blog catatan saya, tapi tetap tidak ada kata terlambat daripada tidak sama-sekali.
Inilah pengalaman saya, dr.Sandi Andri Butarbutar.
Alumni dari FK-Univ.Methodist Indonesia, Medan - Sumatera Utara.