Tunjangan Profesi cair......Tunjangan Profesi cair.....Tunjangan Profesi cair......
Kayanya semua dokter PTT bakalan bersorak nih. Apalagi mengingat janji Sang Pemerintah Daerah mengatakan :
"Tahun 2011 tunjangan dokter PTT dipotong 50% dan akan akan di naikkan/dikembalikan seperti semula pada tahun 2012"
Akan tetapi saudara-saudara sekalian.......Janji tinggallah janji. Mimpi sejawat sekalian dokter PTT di Propinsi Kalimantan Selatan, Kabupaten Kotabaru ibarat pupus di hempas ombak badai.
Kayanya saya pribadi sendiri ingin cepat-cepat kabur dari kabupaten ini dan pindah ke kabupaten lain. Secara.......kabupaten kotabaru, Kalimantan Selatan ini adalah kabupaten yang paling jauh dari Ibukota Propinsi (Banjarmasin) dan wilayahnya sangat susah di jangkau transportasi serta fasilitas listrik yang cuma 12 jam/hari dan itupun masih seringkali terjadi pemadaman bergilir. Berbeda dengan kabupaten lainnya yang listrik 24 jam/hari serta akses jalan yang lancar dan mulus seperti jalan tol serta tidak memerlukan transportasi laut yang membahayakan jiwa dan tunjangan profesi dokter PTT nya lumayan besar.
Untuk menuju kotabaru dari banjarmasin harus naik kendaraan darat + naik kapal ferry dan kalau berangkat jam 8.00 malam dari banjarmasin, maka akan tiba di kotabaru jam 7.00 keesokan harinya. Setelah sampai di kotabaru para dokter PTT akan disebar ke kecamatan yang mana hampir 75% wilayahnya harus menggunakan transportasi Kapal Laut yang sebenarnya tidak layak untuk dikatakan sebagai kapal angkutan penumpang. Karena sebenarnya kapal ini adalah kapal angkutan barang, yang dialihfungsikan menjadi angkutan penumpang yang tidak memenuhi standart keselamatan.
Pokoknya ibarat mendaki gunung lembah berkubang lumpur + menyeberangi lautan luas dengan kapal yang tidak jelas status keselamatannya dan sangat beresiko.
Untungnya Kecamatan tempat saya bertugas hanya memerlukan satu kali penyeberangan dengan menggunakan Kapal Ferry kemudian dilanjutkan dengan angkutan darat selama 4 jam. Berbeda dengan teman-teman saya yangmasih melanjutkan perjalanan dengan Kapal Barang selama 10 - 12 jam
Pada tahun 2011 tunjangan itu dipotong 50% dengan iming-iming tunjangan akan dikembalikan seperti semula.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Kasihan yah.....kita.
Pada tahun 2010 tunjangan profesi dokter PTT adalah Rp.100.000/hari, dan kalau di kalikan 25 hari kerja maka akan dapat Rp.2.500.000/bulan. Saya rasa cukuplah untuk biaya hidup di desa untuk 1 bulan. Jadi untuk teman_teman saya yang jauh di seberang tidak perlu lagi menempuh resiko naik kapal darurat ke kabupaten/kotabaru untuk mengambil uang ke bank untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Akan tetapi semenjak tahun 2011 sampai dengan sekarang, tunjangan dokter PTT turun/dipotong sebesar 50%.
Akhir kata, kita terpaksa ikut saja dengan apa yang telah diputuskan oleh Kepala Daerah. Soalnya kalo enggak, kita bisa di depak dari kabupaten ini. ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Dan setelah selesai masa bakti ini, kita dan teman-teman sepakat untuk tidak memperpanjang Kontrak PTT di kabupaten ini.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Monday, April 30, 2012
Sunday, April 15, 2012
The Gembel Story is InTheHouse
Pagi itu kita bangun dan pengen buru-buru pergi, sebelum sang dewi durga bangun dari semedi-nya. Tapi.....yang namanya panggilan alam, gak bisa di tolak. Hasrat ingin pup menghapus rasa gentar menghadapi sang dewi.
Setelah menyalurkan hasrat ingin pup, kita buru-buru beberesan.
*Anggap aja setelah menginap semalam di Hotel Kartika Husada Bintang-7 dengan bayaran setara dengan Harga Diri, kita kasi bonus se-onggok pup lengkap dengan wangi aroma therapi.
He..he..he..he..he...
Buru-buru deh kita turun ke lobby, nentengin 5 biji Travel Bag yang segede kontainer sambil menatap cuek.
Sebenarnya sih.....kita harusnya menahan rasa malu, karena sudah membayar biaya menginap malam ini pake harga diri plus bonus pup lengkap dengan aroma therapi-nya. Tapi....seperti yang gue bilang kemnarin, sebagai Manusia Setengah Dewa *Merangkap pengemis dan bentar lagi di Upgrade jadi Gembel. Kira itu punya Pamor yang limitless.....!!! *Catet yah...bahwa gak semua orang seberuntung kita, dilahirkan dengan takdir itu.
So......WhatEver gitu deh....cyiii...innn....
Sebelum Capcuzzz.....kita sarapan dulu boooww.......
Lokasinya, tetep di area parkiran Hotel Kartika Husada yang berbintang 7 itu loh, yahh.......beda tipis lah dengan Burj Al Arab hotel super mewah yang ada di Dubai. *Gubrakkk.....!!!
Sarapan pake Nasi Soto + Bakwan goreng *Namanya juga merakyat, sarapan pagi juga mesti merakyat.
Abis sarapan kita Come-on dan tetep........Angkot. Iya....naik angkot dong. Enggak perlu heran atuh, angkot itu Limosin ala-ala gembel loh..!!! Yah.....cuma perlu sedikit di upgrade di bagian body aja. *Hehehehe.....narsis ala gue ini pasti jadi umpatan kaum borjuis sekelas Paris Hilton and I don't Care....
Akhirnya setelah beberapa kali ganti angkot dan bus umum, sampailah kita di sebuah kompleks perumahan yang disebut Pulo Mas di Jakarta Timur. Disini kita punya pengalaman baru, seru dan tetep.....makin membawa kita tenggelam dalam Liburan ala-ala pengemis.
Setelah menyalurkan hasrat ingin pup, kita buru-buru beberesan.
*Anggap aja setelah menginap semalam di Hotel Kartika Husada Bintang-7 dengan bayaran setara dengan Harga Diri, kita kasi bonus se-onggok pup lengkap dengan wangi aroma therapi.
He..he..he..he..he...
Buru-buru deh kita turun ke lobby, nentengin 5 biji Travel Bag yang segede kontainer sambil menatap cuek.
Sebenarnya sih.....kita harusnya menahan rasa malu, karena sudah membayar biaya menginap malam ini pake harga diri plus bonus pup lengkap dengan aroma therapi-nya. Tapi....seperti yang gue bilang kemnarin, sebagai Manusia Setengah Dewa *Merangkap pengemis dan bentar lagi di Upgrade jadi Gembel. Kira itu punya Pamor yang limitless.....!!! *Catet yah...bahwa gak semua orang seberuntung kita, dilahirkan dengan takdir itu.
So......WhatEver gitu deh....cyiii...innn....
Sebelum Capcuzzz.....kita sarapan dulu boooww.......
Lokasinya, tetep di area parkiran Hotel Kartika Husada yang berbintang 7 itu loh, yahh.......beda tipis lah dengan Burj Al Arab hotel super mewah yang ada di Dubai. *Gubrakkk.....!!!
Sarapan pake Nasi Soto + Bakwan goreng *Namanya juga merakyat, sarapan pagi juga mesti merakyat.
Abis sarapan kita Come-on dan tetep........Angkot. Iya....naik angkot dong. Enggak perlu heran atuh, angkot itu Limosin ala-ala gembel loh..!!! Yah.....cuma perlu sedikit di upgrade di bagian body aja. *Hehehehe.....narsis ala gue ini pasti jadi umpatan kaum borjuis sekelas Paris Hilton and I don't Care....
Akhirnya setelah beberapa kali ganti angkot dan bus umum, sampailah kita di sebuah kompleks perumahan yang disebut Pulo Mas di Jakarta Timur. Disini kita punya pengalaman baru, seru dan tetep.....makin membawa kita tenggelam dalam Liburan ala-ala pengemis.
Friday, April 13, 2012
Tragedi Hotel Bintang 7
Libur.....libur.....libur......!!!
Jalan-jalan.......!!! Jekardah i'm coming. Bandung......see you soon.....!!!
Seperti mimpi deh, tapi kejadian itu masih sangat jelas dalam benakku. Seperti nonton pake layar Full High Defenition 3D + Full Double Dolby Sound.
Gak tau apa yang menjadi penyebab murka-nya si mbak-yu yang Cantik Jelita. Pada saat pertama kali nyampe, sambutannya udah gak enak banget. Ibarat nasi tadi malam dijadikan nasi goreng buat sarapan pagi, gak habis, trus dipanasin lagi buat makan malam.
Tapi kita tetap SlowDownBaby.....kali aja lagi sensitif dan perlu waktu buat menenangkan diri. *Cup...cup...cup....elus-elus pake cerokan toilet. ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Kita masih tetap sabar sampai malam tiba. Eh....kita tetap di cuekin. Gue gak terlalu di cuekin sih, dan gue bukan salah satu orang yang dijadikan sasaran kemarahan oleh sang dewi durga.
Secara gue....baik hati dan setia kawan.
*Kawan...!!! Catet yah...!!! Ka-A-We-A-En......KAWAN dan bukan Es-A-Ha-A-Be-A-Te.....SAHABAT.
Maka itu gue memposisikan diri dalam kelompok, tapi tetep....dong.
WhatEver gitu lho....!!!
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
*LetsPartyBaby.....Puts your hands up....Puts your hands up....Puts your hands up.....Puts your hands up.....
Tapi yang namanya kita-kita manusia setengah dewa, dengan intelijensi tingkat tinggi dan pamor yang Limitlesss, kita punya batas kesabaran tentunya cyii...iinnn.
Apalagi kalau diperlakukan kayak gini. Seolah-olah kita ini pengemis yang paling malang sedunia Till The End of The World, memohon sambil memelas, mengharapkan belas kasih sambil mencium kaki bau belerang yang jari-jarinya jempol semua.
Stop....stop....stop...!!!
Tau gak si loe, kita bukan pengemis. Kita cuma gembel. Catet yah....!!! Ge-E-Em-Be-E-El.....GEMBEL, not PENGEMIS.
So........???
Tiba-tiba, buto ijo nongol dan............
Braa...aaakkk.....!!! *Suara pintu di dorong dengan kasar dan keras.
"Kalau kalian gak masuk, aku yang keluar dari sini"
Ya owlloooh.....
Oke...!!! Kalau gitu kami yang keluar. Malam ini juga
"Gak boleh.....!!!
Pokoknya gak boleh."
Gak...!!! Kami bukan siapa-siapa disini. Yang kerja di sini itu, kamu. Kami ada disini itu karena kamu pegawai di sini.
Jadi, biar kami yang keluar. Malam ini juga....!!!
"Gak...!!! Pokoknya aku gk ngasih....!!!
Awas kau....!!! Aku mau keluar dari sini.
"Pokoknya aku gak ngasih...!!! Gak boleh"
*sigh
Pleaseee......deh ah. Aneh banget ngeliat nih sosok manusia. Gak ngerti deh....dengan jalan pikirannya.
Tiba-tiba terdengar suara malaikat yang lembut. Selembut kain Songket Sutra yang disetrika pake pelembut trus di blow pake avocado extract. Surga itu seperti cuma tinggal nyebrang jalan, bayar parkir, sampe deh. Kalo begini, gak sia-sia deh beli album rohani sampai 4 album tadi siang.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
*Di iringi nyanyian deru nafas menahan emosi, sang malaikat yang gak bisa terbang karena OverLimitBagasi berkata :
Kenapa elooo gak ngasi kami pergi?
"Aku udah terlanjur malu. Harga diriku udah terlanjur jelek. Lagian kalau mau pergi, kenapa gak dari tadi kalian pergi"
Ooow....oow....oow....oow....Hellooowww.....!!!
Harga diri loe..???
Maksud loe..!!!
Emang siapa yang dari tadi teriak-teriak sampai 8 oktaf...??? *Ngalah-ngalahin pariban gue Mariah Carey.
Siapa yang dobrak pintu sambil tolak pinggang..??? *Kaya Tragedi Xenia versus Anak Playgroup di Tugu Tani.
Siapa yang buru-buru pergi..??? Kaya Pantung Pancoran yang lagi kebelet pipis?
Oooohh....my gosh....
Tiba-tiba gue nyadar, ternyata kehadiran gue seharian ini gak diharapkan. Kepedean banget yah gue...!!!
Eh...malah pake numpang mandi, bobok dan pake nitip barang gue yang banyaknya satu kontainer.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Intinya :
Malam ini kita tidur di sebuah tempat yang enggak banget deh. Bahkan mimpi buruk gue rasanya kaya di upgrade sampi ke level High-End or Dangerous
Dan yang paling miris adalah, semua itu harus di bayar dengan harga diri.
Alhasil......liburan ini mensyahkan kita jadi pengemis.
*PengemisBergaya.
Monday, March 26, 2012
Kemiskinan di Kab. Kotabaru - Pulau Laut Barat. Kecamatan Lontar
Kemarin malam pukul 20.30 WITA, saya dipanggil ke rumah pasien yang letaknya tidak jauh dari Puskesmas Lontar, tmpat saya bertugas sebagai dokter PTT. Hanya sekitar 100 meter dari belakang kompleks Rumah Dinas. Ditemani oleh seorang Apoteker yang sekaligus menjabat sebagai Plt.Ka.Puskesmas Perawatan Lontar, akhirnya kita berangkat menuju rumah si pasien.
Dari anamsese yang saya lakukan, maka DS/ saya adalah Tumor Ganas Hodgkin dan ada sedikit kecurigaan ke arah Nasofaring Carcinoma. Tapi saya tidak begitu yakin dengan Diagnosa Sementara yang saya berikan, diakibatkan minimnya informasi yang saya dapatkan dari pasien sendiri maupun keluarga pasien.
Pasien tersebut sudah tidak dapat berbicara, maupun menelan makanan akibat benjolan di sekitar leher bagian bawah telinga kanan, dan hal ini sudah dialami selama 1 bulan lebih sehingga si pasien menjadi kurus kering dan terbaring lemas karena tidak makan selama 1 bulan lebih.
Mata kanan juga sudah tidak dapat melihat dan menonjol keluar dan suara nafas pada paru-paru kanan menjadi lebih redap jika dibandingkan dengan paru kiri. Apakah hanya sekedar gejala klinis ataupun komplikasi, tapi besar kecurigaan saya sel kanker sudah menyebar ke mata kanan dan paru kanan.
Saya sarankan kepada keluarga pasien agar si pasien di Rujuk ke RSUD Kotabaru untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, tapi sebelumnya kita rawat dulu di puskesmas untuk memperbaiki keadaan umum si pasien agar selama dalam perjalanan ke Kotabaru, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah kita pasang infus, saya dan perawat menyarankan untuk mempersiapkan barang-barang yang diperlukan selama di Kotabaru. Karena keluarga pasien menyatakan bahwa mereka tidak punya uang dan tidak mampu secara finansial untuk membawa si pasien ke RSUD Kotabaru, maka kita dari pihak Puskesmas, menyarankan untuk mempergunakan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) sebagai prasyarat sebelum mendapatkan perawatan di RSUD Kotabaru, serta kelengkapan lainnya seperti KTP dan Kartu Keluarga.
Saat berembuk di ruang tunggu, saya mendengar sepertinya keluarga pasien sedikit keberatan pasien di rujuk untuk mendapat penanganan lebih lanjut di RSUD Kotabaru dikarenakan permasalahan biaya transportasi, makan dan keperluan lain selama di RS. Akan tetapi kami memberikan kesempatan kepada keluarga pasien untuk berunding dan besok pagi harus sudah ada keputusan. Sebelumnya saya menegaskan kepada keluarga pasien bahwa kami (Puskesmas Lontar), bukan bermaksud mengusir pasien, tetapi ingin agar si pasien mendapatkan penanganan lebih lanjut secepatnya. Dan jikalaupun keluarga pasien menolak untuk di Rujuk Ke RSUD Kotabaru dan memilih untuk tetap di rawat di Puskesmas Lontar, kami juga tidak bisa menolak dan dengan terpaksa keluarga pasien harus menandatangani Surat Penolakan Rujukan dan kami pun akan merawat si pasien dengan fasilitas dan peralatan seadanya.
Pukul 03.20 WITA dini hari, saya dibangunkan keluarga pasien, katanya selang infusnya lepas dan mengeluarkan darah. Saya segera ke Puskesma dan memeriks keadaan selang infus. Ternyata selang infus telah telah tersumbat bekuan darah dan tidak dapat dipergunakan lagi, terpaksa selang infus saya lepas beserta dengan abocate nya.
Lalu saya ingin memasang infus baru, tapi sebelumnya saya meminta ijin lebih dulu kepada pihak keluarga pasien. Namun keluarga pasien tidak bersedia dan memilih untuk pulang pada saat itu juga dangan alasan, sudah agak baikan dan tidak bisa tidur nyenyak di Ruang Perawatan serta kendala keuangan yg tidak memungkinkan untuk di Rujuk ke RSUD Kotabaru. Karena dalam keadaan mengantuk berat dan tidak ingin berdebat dengan keluarga pasien, akhirnya saya pun mengijinkan si pasien untuk dibawa pulang dengan berpesan sebelumnya, kalau ada apa-apa segera datang ke Puskesmas.
Rasanya kesal, marah dan ingin berteriak. Sepertinya semua yang kita lakukan sia-sia. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan terhadap si pasien di rumah. Apakah dibiarkan begitu saja atau diberikan pengobatan tradisional (Ramuan-ramuan lengkap dengan jampi-jampi nya) sayapun tidak tahu. Kira-kira apakah mereka akan tersinggung jika saya mencoba untuk mencari tahu..!!! Tapi itu semua kita kembalikan kepada si pasien dan keluarganya. Meskipun si pasien ingin sekali agar segera dibawa ke RSUD Kotabaru, tapi karena terbaring lemah dan tidak berdaya, dia pun hanya bisa pasrah dengan keputusan yang diambil oleh keluarganya.
Beberapa hal yang saya tangkap dari sini adalah, keluarga terlalu cepat menyerah terhadap kemiskinan tanpa berusaha lebih dahulu.
Miris sekali memang....!!! Di tanah Borneo yang kaya ini. Kaya akan hasil tambang, hasil hutan dan sumberdaya kelautan yang tidak terbatas ini, masih banyak kemiskinan dan kebodohan yang membelenggu rakyat bangsa kita.
Dari anamsese yang saya lakukan, maka DS/ saya adalah Tumor Ganas Hodgkin dan ada sedikit kecurigaan ke arah Nasofaring Carcinoma. Tapi saya tidak begitu yakin dengan Diagnosa Sementara yang saya berikan, diakibatkan minimnya informasi yang saya dapatkan dari pasien sendiri maupun keluarga pasien.
Pasien tersebut sudah tidak dapat berbicara, maupun menelan makanan akibat benjolan di sekitar leher bagian bawah telinga kanan, dan hal ini sudah dialami selama 1 bulan lebih sehingga si pasien menjadi kurus kering dan terbaring lemas karena tidak makan selama 1 bulan lebih.
Mata kanan juga sudah tidak dapat melihat dan menonjol keluar dan suara nafas pada paru-paru kanan menjadi lebih redap jika dibandingkan dengan paru kiri. Apakah hanya sekedar gejala klinis ataupun komplikasi, tapi besar kecurigaan saya sel kanker sudah menyebar ke mata kanan dan paru kanan.
Saya sarankan kepada keluarga pasien agar si pasien di Rujuk ke RSUD Kotabaru untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, tapi sebelumnya kita rawat dulu di puskesmas untuk memperbaiki keadaan umum si pasien agar selama dalam perjalanan ke Kotabaru, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah kita pasang infus, saya dan perawat menyarankan untuk mempersiapkan barang-barang yang diperlukan selama di Kotabaru. Karena keluarga pasien menyatakan bahwa mereka tidak punya uang dan tidak mampu secara finansial untuk membawa si pasien ke RSUD Kotabaru, maka kita dari pihak Puskesmas, menyarankan untuk mempergunakan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) sebagai prasyarat sebelum mendapatkan perawatan di RSUD Kotabaru, serta kelengkapan lainnya seperti KTP dan Kartu Keluarga.
Saat berembuk di ruang tunggu, saya mendengar sepertinya keluarga pasien sedikit keberatan pasien di rujuk untuk mendapat penanganan lebih lanjut di RSUD Kotabaru dikarenakan permasalahan biaya transportasi, makan dan keperluan lain selama di RS. Akan tetapi kami memberikan kesempatan kepada keluarga pasien untuk berunding dan besok pagi harus sudah ada keputusan. Sebelumnya saya menegaskan kepada keluarga pasien bahwa kami (Puskesmas Lontar), bukan bermaksud mengusir pasien, tetapi ingin agar si pasien mendapatkan penanganan lebih lanjut secepatnya. Dan jikalaupun keluarga pasien menolak untuk di Rujuk Ke RSUD Kotabaru dan memilih untuk tetap di rawat di Puskesmas Lontar, kami juga tidak bisa menolak dan dengan terpaksa keluarga pasien harus menandatangani Surat Penolakan Rujukan dan kami pun akan merawat si pasien dengan fasilitas dan peralatan seadanya.
Pukul 03.20 WITA dini hari, saya dibangunkan keluarga pasien, katanya selang infusnya lepas dan mengeluarkan darah. Saya segera ke Puskesma dan memeriks keadaan selang infus. Ternyata selang infus telah telah tersumbat bekuan darah dan tidak dapat dipergunakan lagi, terpaksa selang infus saya lepas beserta dengan abocate nya.
Lalu saya ingin memasang infus baru, tapi sebelumnya saya meminta ijin lebih dulu kepada pihak keluarga pasien. Namun keluarga pasien tidak bersedia dan memilih untuk pulang pada saat itu juga dangan alasan, sudah agak baikan dan tidak bisa tidur nyenyak di Ruang Perawatan serta kendala keuangan yg tidak memungkinkan untuk di Rujuk ke RSUD Kotabaru. Karena dalam keadaan mengantuk berat dan tidak ingin berdebat dengan keluarga pasien, akhirnya saya pun mengijinkan si pasien untuk dibawa pulang dengan berpesan sebelumnya, kalau ada apa-apa segera datang ke Puskesmas.
Rasanya kesal, marah dan ingin berteriak. Sepertinya semua yang kita lakukan sia-sia. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan terhadap si pasien di rumah. Apakah dibiarkan begitu saja atau diberikan pengobatan tradisional (Ramuan-ramuan lengkap dengan jampi-jampi nya) sayapun tidak tahu. Kira-kira apakah mereka akan tersinggung jika saya mencoba untuk mencari tahu..!!! Tapi itu semua kita kembalikan kepada si pasien dan keluarganya. Meskipun si pasien ingin sekali agar segera dibawa ke RSUD Kotabaru, tapi karena terbaring lemah dan tidak berdaya, dia pun hanya bisa pasrah dengan keputusan yang diambil oleh keluarganya.
Beberapa hal yang saya tangkap dari sini adalah, keluarga terlalu cepat menyerah terhadap kemiskinan tanpa berusaha lebih dahulu.
Miris sekali memang....!!! Di tanah Borneo yang kaya ini. Kaya akan hasil tambang, hasil hutan dan sumberdaya kelautan yang tidak terbatas ini, masih banyak kemiskinan dan kebodohan yang membelenggu rakyat bangsa kita.
Saturday, March 24, 2012
The New Beginning
Catatan ini akan berisi pengalaman-pengalaman saya selama melaksanakan tugas sebagai dokter PTT Pusat di Kecamatan Lontar, kab.Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Banyak pengalaman-pengalaman yang seharusnya saya abadikan dalam catatan ini. Meski sedikit terlambat untuk menuliskannya dalam blog catatan saya, tapi tetap tidak ada kata terlambat daripada tidak sama-sekali.
Inilah pengalaman saya, dr.Sandi Andri Butarbutar.
Alumni dari FK-Univ.Methodist Indonesia, Medan - Sumatera Utara.
Banyak pengalaman-pengalaman yang seharusnya saya abadikan dalam catatan ini. Meski sedikit terlambat untuk menuliskannya dalam blog catatan saya, tapi tetap tidak ada kata terlambat daripada tidak sama-sekali.
Inilah pengalaman saya, dr.Sandi Andri Butarbutar.
Alumni dari FK-Univ.Methodist Indonesia, Medan - Sumatera Utara.
Subscribe to:
Posts (Atom)