Wednesday, May 30, 2012

Fenomena Pasien Ngeyel

Terkadang lucu sekaligus mengesalkan, jika seorang pasien datang berobat tapi tidak jujur akan keluhan-keluhan dan kronologis perjalanan penyakitnya. Seperti halnya yang akan saya kisahkan disini.
Awalnya dia datang dengan keluhan benjolan di telapak kaki. Menurut pengakuan si pasien, benjolan tersebut sudah pernah dibelah dan di keluarkan isinya oleh salah seorang petugas kesehatan, akan tetapi dia terkesan menutupi siapa petugas kesehatan yang melakukan hal tersebut.
Setelah kita lakukan anamnese lebih lanjut, kita pun agak sedikit bingung akan keterangan pasien yang berbelit-belit. Akhirnya perawat saya mencoba menanyakan alamat si pasien. Dari alamat tersebut kita langsung menebak nama si petugas kesehatan yang telah melakukan tindakan bedah minor tersebut untuk menanyakan kronologis perjalanan penyakit si pasien.
Karena merasa dicurigai, akhirnya si pasien mengakui bahwa sebenarnya bukan petugas kesehatan yang telah melakukan tindakan tersebut, melainkan dia sendiri yang melakukan tindakan bedah terhadap telapak kakinya tersebut.

Dari awal saya sudah curiga, sebab tidak mungkin seorang petugas kesehatan melakukan tindakan bedah minor dengan hasil akhir yang sangat berantakan. Bahkan tidak jarang ada pasien yang memberi keterangan yang terkesan mengadu-domba kita dengan petugas kesehatan lain yang ada di PusTu. Sering memang kita menemukan luka post bedah minor yang bernanah akibat infeksi sekunder ataupun higiene yang tidak baik dari si pasien tersebut dalam merawat lukanya, tapi tidak dengan luka yang hasil akhir yang berantakan seperti ini.

Seringkali hal seperti ini menyebabkan saya lebih memilih untuk mengambil keputusan Rujuk daripada menangani luka tersebut di Puskesmas. Selain memberikan efek jera, saya juga tidak ingin menjadi orang yang dipersalahkan jika ternyata dikemudian hari terjadi komplikasi yang tidak bisa kita presiksikan.

Tapi si pasien sepertinya ngotot, bahkan bertanya kepada saya.
"Apakah di daerah telapak kaki ini banyak pembuluh darah?"
Maka saya jawab "Ada banyak"
Trus dia bertanya "Apa obat yang bisa menghentikan perdarahan?"
Saya jawab "Ada banyak"
"Apa itu obatnya?"
Lalu saya tidak menjawab pertanyaan si pasien. Karena saya curiga bahwa sepertinya ada indikasi kalau dia akan melakukan pembedahan minor sendiri. Maka untuk kasus yang satu ini, saya tidak mau mengambil resiko dan akhirnya saya menolak melakukan tindakan bedah minor dan menyarankan rujuk ke RS.

Friday, May 25, 2012

Hargai Petugas Medis

Tanggal 20 mei kemarin saya mendapatkan sebuah Broadcast Messages di Blackberry saya. Setelah saya baca, ternyata hampir semua, kejadian tersebut saya alami, kecuali Malpraktik dan Kecelakaan Maut saat bertugas. Semoga Tuhan Selalu beserta saya dan dijauhkan dari hal-hal buruk selama saya menjalankan tugas sebagai Dokter PTT di Kab.Kotabaru, Kec.Pulau Laut Barat, Lontar.

Seperti inilah isi Broadcast Messages tersebut.

Hanya sedikit orang, yang mampu ikhlas menerima tudingan malpraktik, meskipun tidak ada yang pernah tahu seberapa berat dia bekerja tanpa tidur, sebelum akhirnya dia melakukan kesalahan yang mungkin sebenarnya manusiawi untuk seorang manusia biasa yang bisa lelah, tapi tidak boleh dilakukan seorang tenaga kesehatan yang haruslah seperti malaikat yang tanpa cela.

Hanya sedikit manusia, yang mampu menahan lelahnya dan dibangunkan tengah malam, karena setiap orang sakit, meskipun itu hanya gatal-gatal, adalah pasien darurat yang harus ditangani saat itu juga.

Hanya sedikit manusia, yang mampu bersabar saat menerima pasien, yang mungkin sudah membayar berpuluh - puluh atau bahkan ratusan juta ke pabrik rokok untuk membeli penyakit, tapi tidak mau mengeluarkan sepeser pun untuk membayar pengobatan, malah menuduh tenaga kesehatan itu adalah makhluk penghisap darah yang mencari keuntungan dari penderitaan orang lain, tanpa sadar pihak mana yang sebenarnya mengambil keuntungan dan membuat dia sakit seperti itu.

Hanya sedikit orang, yang mampu bekerja di klinik swasta, dengan honor ribuan bahkan ratusan rupiah per pasiennya, tapi dapat dituntut ratusan juta apabila terjadi alergi obat (yang kalau dilihat komponen katanya adalah “alergi” yang berasal dari kekebalan tubuh pasien dan “obat” yang diproduksi oleh pabrik obat, tenaga kesehatan sendiri bisa dibilang hampir tidak punya peran dalam alergi obat tersebut).

Hanya sedikit orang, yang bisa menerima keadilan media, dalam memberitakan kasus dugaan malpraktek secara besar - besaran, sementara saat tenaga kesehatan meninggal tenggelam saat bertugas ke pedalaman, terserang penyakit menular, hanya ditulis di kolom kecil yang pasti tidak menarik perhatian.

"Hargai Petugas Medis"

Friday, May 18, 2012

Sarana Transportasi Kecamatan Lontar

Bisa dikatakan, Kecamatan Lontar adalah kecamatan yang paling ramai diantara kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Kotabaru. Tapi jika ingin menuju ke kecamatan ini, sebaiknya persiapkan kendaraan anda dengan baik. Sebab medan yang anda lalui adalah lumpur dan lobang yang kedalaman bisa mencamai 50 cm - 100 cm. Oleh karena itu kendaraan sejenis sedan, sangat tidak disarankan untuk digunakan di daerah ini. Untuk angkutan umum, biasanya pemilik kedaraan telah memodifikasi kendaraannya menjadi lebih tinggi. Jenis kendaraan yang digunakan sebagai angkutan umum Lontar-Kotabaru adalah mobil Daihatsu Pick-Up yang dimodifikasi sedemikian rupa. Sedangkan untuk angkutan umum Lontar-Banjarmasin adalah angkutan jenis Mini Bus yang hanya beroperasi setiap hari minggu.

Kondisi jalan memang sangat memprihatinkan, terutama jalan yang menghubungkan Kotabaru-Lontar. Mengingat jalur darat adalah satu-satunya akses untuk keluar-masuk Kecamatan Lontar, jadi permasalahan ini merupakan hal yang memerlukan perhatian khusus dari pemerintah. Memang sudah ada beberapa perbaikan di sana-sini. Tapi perbaikannya terkesan asal-asalan dan tidak serius, seperti istilah yang dipakai penjahit pakaian, yaitu "Sulam-Tambal"

Mudah-mudahan pihak pemerintah lebih serius lagi untuk mengatasi permasalahan ini. Yah.....kita berdoa sajalah.
Berdoa.....berdoa.....dan berdoa.....

Thursday, May 17, 2012

Fenomena SKTM

SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu)

Apakah ini sebuah fenomena atau cuma sekedar kebiasaan turun-temurun yang mengandung unsur politik??? Entahlah....!!! Yang pasti di Kecamatan Lontar, SKTM seolah-olah sedang mem-booming seperti pada saat pertamakali kemunculan BoyBand-SM*SH. Banyak yang mencibir, akan tetapi justru mereka jualah yang menikmatinya.
HaHa【ツ】HaHa【ツ】HaHa【ツ】HaHa. *LemparPakePupukKandang......

Hampir semua orang di Kecamatan Lontar yang berobat ke Puskesmas, selalu menggunakan fasilitas SKTM. Banyak diantara mereka termasuk dalam golongan Ekonomi Menengah ke atas, tapi tetap mendapatkan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu /Miskin). Fenomena ini cukup menggelitik bagi saya, meskipun tidak saya pungkiri juga bahwa banyak di antaranya yang benar-benar dari golongan tidak mampu/miskin dan pantas untuk mendapatkan SKTM tersebut.

Seperti saya alami baru-baru ini di Puskesmas Rawatan Lontar. Seorang pasien dgn inisial Tn.K dari desa G.P dirawat di Puskesmas Perawatan Lontar dengan status SKTM/Miskin. Keesokan harinya salah seorang keluarga pasien menemui saya dan memohon agar diberikan obat-obat yang paten/bagus. Lalu saya menolak permintaan tersebut dan mengatakan permintaan untuk menggunakan obat paten (obat-obatan diluar dari yang disediakan Puskesmas) hanyalah untuk pasien umum yang mampu (bayar) kalau untuk pasien miskin/SKTM hanya diberikan obat-obatan yang tersedia di Puskesmas.

Keesokan harinya lagi keluarga pasien yang lainnya menemui saya dan mengatakan agar pengobatan si pasien di gunakan obat-obatan paten saja, dan status miskin/SKTM tersebut diabaikan saja. Karena malas menghadapi tingkah pasien yang seperti ini, saya sarankan dia untuk berkonsultasi dengan perawat saya.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Untung saja perawat saya tersebut sepikiran dengan saya. Pada saat dia mengutarakan keinginannya kepada perawat saya, maka si perawat menjawab.
"Maaf pak tidak bisa. Ini artinya anda bermain-main dengan SKTM/Surat Miskin ini. Jika anda mampu, kenapa sejak awal anda menggunakan surat keterangan miskin ini? Ini artinya anda mempermainkan kami (Puskesmas Lontar). Di sini ada tandatangan kepala desa dan diketahui oleh Camat. Anda bisa saya laporkan telah menyalahgunakan Surat Keterangan Miskin/SKTM ini"

Aneh......bin ajaib memang. Kok bisa yah....SKTM ini sangat mudah diperoleh. Ditandatangani oleh Kepala Desa dan diketahui oleh Camat pula. Apakah untuk memperoleh Surat Miskin/SKTM, tidak ada perifikasi yang jelas dan konkrit tentang kriteria keluarga yang miskin/tidak mampu?
Saya mengatakan hal ini, sebab bukan cuma kali ini saja hal ini terjadi, tapi sudah sering sekali. Bahkan salah satu keluarga di Desa L.U yang sudah jelas-jelas dari keluarga sangat mampu pun menggunakan surat miskin/SKTM tersebut pada saat mendapatkan perawatan di Puskesmas Lontar.

Untuk permasalahan ini sebaiknya perlu diberikan pengarahan, pembelajaran ataupun bila perlu pelatihan/penataran kepada pihak-pihak terkait. Mungkin banyak yang menutup mata dengan kejadian ini, tapi saya tidak. Entah itu alasannya berbau Politik ataukah SARA (Suku-Ras-Agama) ataupun Kolusi-Nepotisme, saya tidak perduli.
Dan untuk masyarakat Pulau Laut Barat, Sebaiknya kita harus membudayakan prinsip "Malu Miskin"
Miskin itu bukanlah suatu kebanggaan, meskipun dengan status miskin itu membuat kita akan menerima santunan, bahkan belaskasihan oranglain.
Miskin itu bukanlah suatu kebanggaan, meskipun dengan status miskin kita akan menerima pengobatan/perawatan gratis di Puskesmas.
Tanah kita tanah yang kaya, hasil laut kita melimpah-ruah. Mari kita buang sikap malas. Rajin dan giatlah bekerja, dan budayakan Malu Miskin.

Sunday, May 13, 2012

Layanan Operator Selular di Kecamatan Lontar

Jaringan ataupun signal untuk layanan telekomunikasi di kecamatan lontar bisa dibilang tidak begitu baik. Untuk lebih jelasnya, kita akan bahas satu per satu sebatas yang saya ketahui berdasarkan pengalaman saya.

TELKOMSEL
Untuk operator yang satu ini, yang katanya di iklan-iklan telah menjangkau seluruh tanah air bahkan sampai ke pelosok. Tapi tidak untuk tanah Borneo. Seperti hal nya di kecamatan Lontar. Untuk sekedar telepone ataupun sms, jaringan operator ini cukup bisa untuk di andalkan. Akan tetapi untuk layanan internet dan blackberry, layanan operator yang satu ini sangat lelet dan mengesalkan. Saran saya anda tidak menggunakan layanan operator ini di daerah lontar untuk koneksi ke dunia maya ataupun layanan blackberry services.

XL
Sedikit ledih baik jika dibandingkan dengan telkomsel, untuk urusan surf ke dunia maya ataupun layanan blackberry services. Cuman terkadang ada leletnya juga, dan cukup mengesalkan jika hal ini terjadi di saat-saat urgent ataupun penting.

INDOSAT.
Jaringan indosat terutama im3 adalah jaringan yang paling baik. Lebih cepat dan tidak lelet. Akan tetapi ada beberapa kendala. Jaringan indosat di lontar ini, terutama jaringan Lontar-2 sering sekali mengalami kerusakan. Pernah sinyal sampai hilang total (SOS) selama 3x24 jam. Dimana kita benar-benar gak bisa berbuat apa-apa lagi. Meskipun jarang terjadi kerusakan yang cukup serius seperti hal yang tadi saya katakan, jaringan indoast cukup sering kehilangan jaringan (SOS) akan tetapi paling cuma beberapa jam, trus nanti bagus lagi. Kalau sudah begini, biasanya kita memiliki kartu cadangan untuk koneksi ke internet, dan biasanya kita lebih memilih operator XL di saat-saat seperti ini.
a

Thursday, May 3, 2012

Kecamatan Pulau Laut Barat / Kecamatan Lontar

Kecamatan Lontar, tepatnya sering di sebut sebagai Kecamatan Pulau Laut Barat. Merupakan wilayah dari Kabupaten Kotabaru, Propinsi Kalimantan Selatan. Kecamatan ini memiliki 21 desa dan 1 Puskesmas perawatan inap, menjadikan Puskesmas ini sangat ramai dikunjungi pasien.
Mayoritas penduduknya adalah muslim hampir sekitar 99,6% dan kristen sekitar 0,3-0,4% dari berbagai macam suku. Suku yang mayoritas adalah Suku banjar sekitar 35%, suku mandar sekitar 30%, suku bugis sekitar 20%, suku jawa sekitar 10% dan batak, toraja, manado, chinese dll sekitar 5%.

Kecamatan ini memiliki 1 buah Puskesmas yang berstatus sebagai Puskesmas Perawatan dan melakukan pelayanan kesehatan terhadap 21 desa. Sebenarnya jika dipikirkan secara logika, baik dari jumlah penduduk maupun luas wilayah serta jumlah desa, kecamatan ini seharusnya memiliki 2 buah Puskesmas, yaitu 1 Puskesmas Perawatan inap dan 1 Puskesmas Rawat Jalan. Seperti hal nya dengan kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Kotabaru ini.
Misalnya :
1. Kecamatan Pamukan Utara
2. Kecamatan Pamukan Selatan
3. Kecamatan Sungai Durian
4. Kecamatan Sampanahan
5. Kecamatan Kelumpang Tengah
6. Kecamatan Kelumpang Hulu
Dan masih banyak lagi kecamatan lainnya yang sudah punya 2 buah puskesmas.

Sebenarnya Kecamatan Pulau Laut Barat/Kecamatan Lontar ini sudah sepantasnya di bangun 1 lagi Puskesmas Rawat Jalan. Kita tidak terlalu membutuhkan jika sarana kesehatan yang ada di perbesar ataupun dibangun menjadi gedung bertingkat dan mewah.
Tidak....!!! Kita tidak butuh itu. Yang kita butuhkan adalah memperluas jangkauan sarana kesehatan sampai ke pelosok dan daerah sangat-sangat terpencil, yaitu  dengan cara dibangunnya Puskesmas lagi di daerah yang jaraknya cukup jauh dari Puskesmas yang sudah ada sebelumnya.
Tapi saya tidak tahu pasti apa yang menyebabkan kecamatan yang satu ini seolah-olah di anak-tirikan. Dianak tirikan oleh siapa? Saya pun tidak tahu pasti. Oleh Dinas Kesehatan kah? Atau Pemerintah Daerah kah? Atau Oleh saya kah?
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ

Tapi apapun dan siapa pun itu, yang pasti kita tetap melaksanakan pekerjaan kita sebagai tenaga kesehatan dan melaksanakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, meskipun seringkali kita kewalahan baik dari segi jumlah tenaga kesehatan maupun dana.

Kiranya pihak-pihak terkait segera sadar dan perduli tentang apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh masyarakat di Pulau Laut Barat ini adalah dibangunnya 1 lagi Puskesmas/Sarana Pelayanan Kesehatan, baik itu cuma sekedar Puskesmas rawat jalan.

Tuesday, May 1, 2012

Puskesmas Lontar


Puskesmas Lontar, tepatnya berada di Desa Lontar Timur, Kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten Kotabaru, Propinsi Kalimantan Selatan. Puskesmas berstatus Rawatan Inap ini membawahi 21 desa, menjadikan Puskesmas ini sangat ramai dikunjungi pasien.

Hampir setiap hari kesibukan meramaikan aktivitas di Puskesmas ini, meski tidak dipungkiri bahwa tidak sedikit yang cuma bermalas-malasan dan bersikap tidak perduli dengan rekan kerjanya yang kewalahan dengan pekerjaan dan tugas di Puskesmas ini. Meski begitu, bukan berarti saya adalah sosok seorang yang sempurna di lingkungan pekerjaan, tapi setidaknya saya tahu kapan saat yang tepat untuk bermalas-malasan, kapan harus serius bekerja dan yang paling penting adalah kapan saat yang tepat untuk kabur dan refresing untuk melepaskan diri dari segala kepenatan.

Maaf.....saya terpaksa pakai istilah "Kabur" karena sebenarnya sebagai Dokter PTT kita tidak di perbolehkan meninggalkan tugas sesuai dengan Surat Pernyataan Ber-Materai yang kita tanda-tangani pada saat mendaftarkan diri sebagai Calon Dokter PTT.
Tapi Dokter PTT juga manusia. Meski di gaji dan di beri Insentif yang lumayan besar, kita juga manusia yang punya rasa lelah dan muak dengan segala kesibukan dan kepenatan ini. Jadi sudah sepantasnya kita di beri ijin refresing dan melepas semua kepenatan di lingkungan pekerjaan.
Setidaknya dalam 1 bulan diberi ijin 3 hari + 2 hari untuk perjalanan Pulang-Pergi. Tapi karena kita di perlakukan seperti robot dan di beri ijin maksimal cuma 3 hari, makanya kita sering bermain kabur-kaburan.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ

Selama bertugas di Puskesmas lontar, sudah terjadi 3 kali pergantian kepemimpinan. Ini semua diakibatkan karena kita semua sangat sulit untuk diatur dan dipimpin. ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ.
Jauh sebelum saya bertugas di Puskesmas ini, saya tidak tahu bagaimana sistem kepemimpinan di Puskesmas ini. Yang saya tahu adalah semenjak saya bertugas di Puskesmas ini, bahwa Pengorganisasian Pemegang Program serta mekanisme kerja lainnya tidak pernah jelas.

Seperti saya alami sendiri di bagian Poliklinik, Unit Gawat Darurat serta Perawatan inap, bahwa mekanisme dana Askes, SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) serta Jamkesmas tidak pernah jelas. Alhasil selama Tahun 2011 kita (dokter dan perawat) tidak pernah mendapat honor dari merawat pasien Askes dan SKTM baik itu rawat jalan maupun rawat inap. Padahal segala persyaratan kita sudah lengkapi, mulai dari Fotocopy SKTM, KTP dan Kartu Keluarga.
Pasien-pasien tidak mampu yang menggunakan fasilitas SKTM yang seharusnya kita rujuk tanpa meminta uang sepeser pun, terpaksa tetap kita tagih sejumlah uang untuk membeli bahan bakar, jasa supir dan jasa perawat pendamping rujukan.

Salah satu dilema paling berat yang saya rasakan adalah pada saat ada pasien yang di rawat inap di puskesmas. Sebenarnya saya sangat berat menerima pasien untuk dirawat di Puskesmas Rawatan ini dan sebisa mungkin mengusahakan agar si pasien segera di rujuk ke Rumah Sakit terdekat. Akan tetapi, jikalau si pasien menolak di rujuk dan memilih tetap di rawat di puskesmas, yah......apa boleh buat. Terpaksa saya terima segala tantangan ini dengan lapang dada.
Maas jika saya harus memakai kata "Tantangan" ini semua ada alasannya.
Begini......!!!!
Semua perawat yang bertugas di Puskesmas Rawatan ini, tidak ada seorang pun yang tinggal dan berdiam di Rumah Dinas. Alhasil jikalau ada pasien yang dirawat inap, maka dokter yang tinggal di Rumah Dinas akan direpotkan dengan keluhan-keluhan pasien yang seharusnya menjadi tanggung jawab perawat, seperti mengganti cairan infus yang habis ataupun macet karena adanya gumpalan darah serta jadwal obat suntikan tengah malam.. Belum lagi jikalau ternyata tengah malam ada pasien baru ataupun ada pasien rawat inap yang kejang/sesak, maka dokter terpaksa bekerja sendiri tanpa bantuan perawat. Wah.....kasihan sekali yah.....dokter di Puskesmas ini.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ. Terkadang memang saya suka lebay.

Yah.....begitulah yang saya alami selama bertugas di Puskesmas Lontar ini. Jadi untuk sejawat-sejawat sekalian yang akan bertugas di Puskesmas ini, kira-kira sudah ada sedikit gambaran lah buat sejawat sekalian.