Catatan dr.Sandi Butarbutar
Sunday, August 5, 2012
THR Kabupaten Kotabaru.
Beginilah nasib Dokter dan Bidan PTT, serta Tenaga honorer dan Tenaga Kerja Sukarela di Kecamatan Lontar, Kabupaten Kotabaru - Kalimantan Selatan.
Monday, July 16, 2012
Sunatan Massal feat Angkatan Laut
Besok kita ada kegiatan Sunatan Massal di Puskesmas lontar. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Angkatan Laut ini bekerjasama dengan Puskesmas Perawatan Lontar.
Apakah cuma kebetulan atau memang sudah direncanakan sebelumnya, bahwa besok kita juga kedatangan tamu, yaitu Bapak Bupati Kab. Kotabaru, yang mana kedatangan beliau adalah dalam rangka peresmian Kecamatan baru yang merupakan pecahan dari Kec.Pulau Laut barat. Sudah sepantasnya memang jika Kecamatan Pulau Laut Barat ini, yang memiliki 21 desa untuk dibagi menjadi 2 Kecamatan.
Akan tetapi baru saja saya mendapatkan kabar yang sedikit mengecewakan dari TNI angkatan Laut, bahwa Bapak Bupati tidak jadi datang. Kedatangan beliau digantikan oleh Bapak Ketua DPRD Kab.Kotabaru.
Walau sedikit kecewa dengan adanya kabar-kabar tersebut, ditambah lagi dengan miscomunication dengan Pihak Angkatan Laut sebagai pelaksana, tapi kegiatan Sunatan Massal yang sudah kita rencanakan sebelumnya harus tetap berjalan seperti yang telah kita rencanakan jauh hari..
Sebenarnya kedatangan Bapak Bupati sangat kita harapkan. Seperti kata pepatah, Tak Kenal Maka Tak Sayang. Oleh sebab itu, bila Bapak Bupati sampai benar-benar datang ke Kecamatan Pulau Laut Barat ini, saya rasa beliau akan sangat setuju, jika saya mengatakan bahwa jika beliau telah mengenal Kecamatan Pulau Laut Barat ini, maka beliau akan tahu bahwa Kecamatan Pulau Laut Barat ini benar-benar membutuhkan pembangunan sarana Transportasi.
Dying and survival
Akhirnya, disini nih saya berada. Di lontar lagi.....!!! Menghabiskan hari-hari masa penugasan saya. Mau-Tidak Mau saya harus menikmati hari-hari yang membosankan ini.
Dying and Survival
Thursday, June 7, 2012
Lokakarya Mini
LokMin kali ini cukup memuaskan bagi saya, terutama laporan-laporan alokasi untuk kegiatan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) meskipun untuk dokter umum tidak mendapat bagian dari kegiatan Program BOK tersebut. Yah....setidaknya saya dan rekan sejawat saya yang lain, tidak diberatkan lagi dengan segala kegiatan-kegiatan yang nota bene tidak penting menurut saya.
Begitu juga dengan laporan untuk alokasi DOP (Dana Operasional Puskesmas) cukup memuaskan bagi saya. Terutama untuk perihal dana untuk jaga malam. Ternyata sejak bertugas tertanggal 1 April 2011 sebagai dokter PTT di Puskesmas Perawatan Lontar, ternyata baru hari ini saya diberitahu bahwa untuk jaga malam pasien rawat inap, dokter dan perawat masih dihargai dengan uang tunai sebesar Rp.25.000,- /hari dengan catatan uang sejumlah tersebut sudah termasuk jasa untuk dokter + perawat dan hanya untuk pasien Rawat Inap (Tidak termasuk pasien UGD Rawat Jalan).
Lumayanlah....untuk kita yang tinggal di desa, cukup untuk membeli 1 liter beras. Saya pikir selama ini kita tidak pernah dihargai dalam merawat inap pasien di Puskesmas ini. Ternyata sejak DOP tahun 2012, jerih payah kita akhirnya dihargai. Terimakasih Tuhan, akhirnya doa-doa kita pun terkabulkan.
Tapi ada 1 hal yang masih mengganjal di hati saya, yaitu mengenai Program Posyandu Lansia. Saya sangat setuju dengan pernyataan Pak Budi, "Mengapa Posyandu Lansia ini terkesan di anak tirikan"
Hal ini di sebabkan Puskesmas diperintahkan untuk menjalankan Program Posyandu Lansia, tapi dana untuk pelaksanaannya tidak ada.
Kalau saya jelas dan tegas menyarankan, kalau tidak ada dana dari Dinas Kesehatan Kotabaru, kenapa kita harus menjalankan program lansia tersebut. Akan tetapi ada pihak-pihak yang bersikukuh tetap menjalankan Program Posyandu Lansia ini dengan menggunakan dana pribadi. Dan yang paling aneh menurut saya adalah malah menyarankan mengambil dana dari program lain atau apalah itu saya tidak mengerti.
Tapi saya mau tegaskan, intinya Posyandu Lansia itu adalah program dan sudah seharusnya ada dananya. Kalau memang tidak ada dana untuk pelaksanaannya, bagaimana kita mau melaksanakan Program Posyandu Lansia. Apa kita harus mengocek dana sendiri? Sampai kapan kita harus menutupi? Sampai kapan kita harus dibodohi?
Memang sudah seharusnya kita loyal terhadap pimpinan, tadi gak konyol kayak gini dong...!!!
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Jadi menurut saya sudah saatnya kita menghentikan Program Posyandu Lansia jika tidak ada dananya. Hal ini selain bertujuan untuk mencari tahu, apakah memang untuk Program Posyandu Lansia benar-benar tidak ada dananya? Atau ada dananya tapi diselewengkan oleh orang-orang yang tidak berhak? Nah jika ternyata tidak ada dananya yah.....apa boleh buat? Tapi kalau ternyata ada dananya, maka kebenaran akan terungkap.
Justru saya semakin curiga dengan pihak-pihak yang ngotot untuk dilaksanakannya Program Posyandu Lansia tersebut dengan cara menggunakan dana pribadi ataupun menalangi dana sedikit-sedikit dari Program lain untuk menutupi kebutuhan dana di Program Posyandu Lansia. Ada apa sebenarnya? Apakah ada Udang dibalik bakwan???
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Dana pribadi? Berelaan? Please deh ahh....!!! Please don't be stupid. Gak ada orang yang bekerja tapi malah rugi. Jika dikatakan pelayanan sih pelayanan, tapi masa masih harus keluar kocek sendiri? Masalahnya kita 21 desa. Yang ada malah buntung omm......
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Wednesday, June 6, 2012
Kendaraan Dinas
Kendaraan Dinas Dokter (Umum dan Gigi) memang tidak ada, atau ada tetapi digunakan oleh orang lain yang tidak berhak atau memang karena kami bertiga cuma berstatus Dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) dan bukan PNS (Pegawai Negeri Sipil) sehingga kami bertiga tidak berhak untuk mendapatkan kendaraan dinas??? Saya tidak pernah mempertanyakan perihal tersebut.
*GakAdaGunanyaJugaKaleeee.....!!!
Jika saya membutuhkan kendaraan, saya tinggal pinjam kendaraan milik PLT Puskesmas atau milik Perawat gigi. Meskipun motor tersebut terkesan butut dan sudah berusia sangat-sangat tua dan sering rusak, tapi sangat membantu saya untuk mobile di sekitar Kecamatan Lontar ini. Walaupun seringkali mogok diperjalanan, tapi saya tetap percaya diri dan tidak malu untuk menggunakan kendaraan tersebut.
Sebab mau bagaimana lagi? Daripada saya harus berjalan kaki....!!!
Yahh.....jika ada pihak-pihak ataupun pribadi yang tergerak hatinya untuk memberikan Kendaraan bekas sekalipun, untuk dipergunakan sebagai Kendaraan Dinas dokter umum maupun dokter gigi, maka kita akan sangat berterimakasih sekali.
*Kasihanilah kami dokter-dokter PTT ini, masa harus jalan kaki atau pinjam-pinjam kendaraan.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Dilema Penggunaan Obat Rasional dan Inventaris AlKes (Alat Kesehatan)
Kenapa? Karena menurut saya tidak susah jika harus menerapkan penggunaan obat rasional. Akan tetapi banyak sekali kendala yang mengharuskan kita (terutama Puskesmas Lontar) terpaksa tidak menggunakan obat secara rasional terutama untuk jenis Antibiotik.
Salah satu hal yang menurut pengalaman saya, yang memgharuskan kita menggunakan obat secara tidak rasional adalah Penggunaan Antibiotik.
Penggunaan Antibiotik terutama pada batita hingga anak umur 5 tahun terpaksa langsung kita berikan jika ada yang sakit terutama Gastroenteritis (termasuk diare non spesifik) maupun ISPA. Karena menurut kebiasaan masyarakat disini, bahwa sebelum dibawa ke Puskesmas seringkali si anak sudah diberikan antibiotik oleh orangtuanya (paling sering adalah Ampicillin) dan tidak tertutup kemungkinan sudah diberikan Antibiotik Chloramphenicol ataupun Cotrimoksazole dengan dosis yang tidak tepat sehingga kita terpaksa langsung memberikan Antibiotik.
Kejadian yang sering kita hadapi adalah jika seorang anak sakit baru sekitar 1-2 hari dibawa berobat ke Puskesmas tidak kita berikan Antibiotik, setelah 3 hari kemudian ternyata si Anak belum sembuh, orangtua si Anak tidak akan membawa ulang Anaknya untuk kontrol berobat ke Puskesmas kecuali jika si Anak sudah dalam keadaan yang sangat parah/sekarat dan membutuhkan tindakan Rujuk ke RS
Pada saat Pelatihan kita juga membahas tentang kebutuhan obat di Puskesmas dan permasalahan kelengkapan alkes dan obat-obatan yang sering sekali kurang. Untuk alkes jujur saya sebagai seorang dokter umum sangat membutuhkan Stethoscope yang baik sebagai alat untuk menunjang menegakkan diagnosa. Mudah-mudahan setelah pembahasan ini pihak Dinas Kesehatan akan memberikan Inventaris Alkes yang baik. Saya tidak mengharapkan diberi Stethoscope yang mahal seperti Merk Litmann yang harganya sekitar Rp.800.000 s/d Rp.1.100.000. Tapi setidaknya diberikan Stethoscope yang lumayanlah (Misalnya Merk Spirit), bukan Stetoschope murahan yang nota bene jelas-jelas kualitasnya sangat jauh dibawah standart, yang jika dipakai untuk mengukur Tekanan Darah saja sulit untuk di dengar, terlebih-lebih jika digunakan untuk mendengar Suara Pernafasan.
Jujur saya katakan bahwa stetoscope pribadi saya yang Merk Littmann (Jenis Stethoscope terbaik yang ada di pasaran Indonesia saat ini) sudah rusak di bagian membran karena sudah hampir 1 tahun untuk membantu menegakkan diagnosa selama saya bertugas sebagai dokter PTT di Puskesmas Lontar. Begitu juga dengan Stethoscope milik rekan sejawat saya di Puskesmas Lontar, sudah rusak dibagian membran, dan kita sedang kebingungan untuk usaha memperbaiki Stethoscope tersebut, sebab belum ada kesempatan DL (DinasLuar) untuk pergi ke Kota Banjarmasin.
Dari sekian banyak yang kita bahas pada saat pelatihan, mudah-mudahanlah ada realisasinya. Tidak hanya sekedar cuap-cuap dan omong kosong belaka.
Dan jika ada pihak-pihak ataupun pribadi yang mau membantu kita dalam permasalahan Inventaris Alkes, maka kita akan sangat berterimakasih.
Wednesday, May 30, 2012
Fenomena Pasien Ngeyel
Awalnya dia datang dengan keluhan benjolan di telapak kaki. Menurut pengakuan si pasien, benjolan tersebut sudah pernah dibelah dan di keluarkan isinya oleh salah seorang petugas kesehatan, akan tetapi dia terkesan menutupi siapa petugas kesehatan yang melakukan hal tersebut.
Setelah kita lakukan anamnese lebih lanjut, kita pun agak sedikit bingung akan keterangan pasien yang berbelit-belit. Akhirnya perawat saya mencoba menanyakan alamat si pasien. Dari alamat tersebut kita langsung menebak nama si petugas kesehatan yang telah melakukan tindakan bedah minor tersebut untuk menanyakan kronologis perjalanan penyakit si pasien.
Karena merasa dicurigai, akhirnya si pasien mengakui bahwa sebenarnya bukan petugas kesehatan yang telah melakukan tindakan tersebut, melainkan dia sendiri yang melakukan tindakan bedah terhadap telapak kakinya tersebut.
Dari awal saya sudah curiga, sebab tidak mungkin seorang petugas kesehatan melakukan tindakan bedah minor dengan hasil akhir yang sangat berantakan. Bahkan tidak jarang ada pasien yang memberi keterangan yang terkesan mengadu-domba kita dengan petugas kesehatan lain yang ada di PusTu. Sering memang kita menemukan luka post bedah minor yang bernanah akibat infeksi sekunder ataupun higiene yang tidak baik dari si pasien tersebut dalam merawat lukanya, tapi tidak dengan luka yang hasil akhir yang berantakan seperti ini.
Seringkali hal seperti ini menyebabkan saya lebih memilih untuk mengambil keputusan Rujuk daripada menangani luka tersebut di Puskesmas. Selain memberikan efek jera, saya juga tidak ingin menjadi orang yang dipersalahkan jika ternyata dikemudian hari terjadi komplikasi yang tidak bisa kita presiksikan.
Tapi si pasien sepertinya ngotot, bahkan bertanya kepada saya.
"Apakah di daerah telapak kaki ini banyak pembuluh darah?"
Maka saya jawab "Ada banyak"
Trus dia bertanya "Apa obat yang bisa menghentikan perdarahan?"
Saya jawab "Ada banyak"
"Apa itu obatnya?"
Lalu saya tidak menjawab pertanyaan si pasien. Karena saya curiga bahwa sepertinya ada indikasi kalau dia akan melakukan pembedahan minor sendiri. Maka untuk kasus yang satu ini, saya tidak mau mengambil resiko dan akhirnya saya menolak melakukan tindakan bedah minor dan menyarankan rujuk ke RS.