Sunday, August 5, 2012

THR Kabupaten Kotabaru.

Tahun ke-2 saya bertugas di Puskesmas Lontar, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Tahun ke-2 juga saya dan rekan kerja saya sesama Dokter PTT tidak menerima THR dari Pemerintah Daerah, kecuali pegawai yang berstatus PNS.

Beginilah nasib Dokter dan Bidan PTT, serta Tenaga honorer dan Tenaga Kerja Sukarela di Kecamatan Lontar, Kabupaten Kotabaru - Kalimantan Selatan.


Monday, July 16, 2012

Sunatan Massal feat Angkatan Laut

Besok kita ada kegiatan Sunatan Massal di Puskesmas lontar. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Angkatan Laut ini bekerjasama dengan Puskesmas Perawatan Lontar.
Apakah cuma kebetulan atau memang sudah direncanakan sebelumnya, bahwa besok kita juga kedatangan tamu, yaitu Bapak Bupati Kab. Kotabaru, yang mana kedatangan beliau adalah dalam rangka peresmian Kecamatan baru yang merupakan pecahan dari Kec.Pulau Laut barat. Sudah sepantasnya memang jika Kecamatan Pulau Laut Barat ini, yang memiliki 21 desa untuk dibagi menjadi 2 Kecamatan.

Akan tetapi baru saja saya mendapatkan kabar yang sedikit mengecewakan dari TNI angkatan Laut, bahwa Bapak Bupati tidak jadi datang. Kedatangan beliau digantikan oleh Bapak Ketua DPRD Kab.Kotabaru.
Walau sedikit kecewa dengan adanya kabar-kabar tersebut, ditambah lagi dengan miscomunication dengan Pihak Angkatan Laut sebagai pelaksana, tapi kegiatan Sunatan Massal yang sudah kita rencanakan sebelumnya harus tetap berjalan seperti yang telah kita rencanakan jauh hari..
Sebenarnya kedatangan Bapak Bupati sangat kita harapkan. Seperti kata pepatah, Tak Kenal Maka Tak Sayang. Oleh sebab itu, bila Bapak Bupati sampai benar-benar datang ke Kecamatan Pulau Laut Barat ini, saya rasa beliau akan sangat setuju, jika saya mengatakan bahwa jika beliau telah mengenal Kecamatan Pulau Laut Barat ini, maka beliau akan tahu bahwa Kecamatan Pulau Laut Barat ini benar-benar membutuhkan pembangunan sarana Transportasi.

Dying and survival

Selama 15 hari saya meninggalkan lontar menenangkan diri. Setelah surat pengunduran diri saya ditolak oleh Dinas Propinsi dan mendapatkan saran, wejangan dari teman-teman, keluarga dan Kadis Propinsi. Akhirnya saya membatalkan pengunduran diri saya sebagai dokter PTT di Puskesmas Lontar. Untungnya beliau berjanji akan membantu untuk proses pemindahan wilayah puskesmas tempat saya bertugas, untuk periode berikutnya.

Akhirnya, disini nih saya berada. Di lontar lagi.....!!! Menghabiskan hari-hari masa penugasan saya. Mau-Tidak Mau saya harus menikmati hari-hari yang membosankan ini.
Dying and Survival

Thursday, June 7, 2012

Lokakarya Mini

Hari ini 7 juni 2012 kita mengadakan LokMin (Lokakarya Mini). Seharusnya LokMin ini sudah dilaksanakan pada bulan yang lalu. Tapi karena kesibukan Kepala Puskesmas yang mana harus mengikuti pelatihan Penggunaan Obat Rasional dan Sharing BOK dan lain-lain, maka jadwal pelaksanaan LokMin diundur menjadi hari ini.

LokMin kali ini cukup memuaskan bagi saya, terutama laporan-laporan alokasi untuk kegiatan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) meskipun untuk dokter umum tidak mendapat bagian dari kegiatan Program BOK tersebut. Yah....setidaknya saya dan rekan sejawat saya yang lain, tidak diberatkan lagi dengan segala kegiatan-kegiatan yang nota bene tidak penting menurut saya.

Begitu juga dengan laporan untuk alokasi DOP (Dana Operasional Puskesmas) cukup memuaskan bagi saya. Terutama untuk perihal dana untuk jaga malam. Ternyata sejak bertugas tertanggal 1 April 2011 sebagai dokter PTT di Puskesmas Perawatan Lontar, ternyata baru hari ini saya diberitahu bahwa untuk jaga malam pasien rawat inap, dokter dan perawat masih dihargai dengan uang tunai sebesar Rp.25.000,- /hari dengan catatan uang sejumlah tersebut sudah termasuk jasa untuk dokter + perawat dan hanya untuk pasien Rawat Inap (Tidak termasuk pasien UGD Rawat Jalan).
Lumayanlah....untuk kita yang tinggal di desa, cukup untuk membeli 1 liter beras. Saya pikir selama ini kita tidak pernah dihargai dalam merawat inap pasien di Puskesmas ini. Ternyata sejak DOP tahun 2012, jerih payah kita akhirnya dihargai. Terimakasih Tuhan, akhirnya doa-doa kita pun terkabulkan.

Tapi ada 1 hal yang masih mengganjal di hati saya, yaitu mengenai Program Posyandu Lansia. Saya sangat setuju dengan pernyataan Pak Budi, "Mengapa Posyandu Lansia ini terkesan di anak tirikan"
Hal ini di sebabkan Puskesmas diperintahkan untuk menjalankan Program Posyandu Lansia, tapi dana untuk pelaksanaannya tidak ada.
Kalau saya jelas dan tegas menyarankan, kalau tidak ada dana dari Dinas Kesehatan Kotabaru, kenapa kita harus menjalankan program lansia tersebut. Akan tetapi ada pihak-pihak yang bersikukuh tetap menjalankan Program Posyandu Lansia ini dengan menggunakan dana pribadi. Dan yang paling aneh menurut saya adalah malah menyarankan mengambil dana dari program lain atau apalah itu saya tidak mengerti.
Tapi saya mau tegaskan, intinya Posyandu Lansia itu adalah program dan sudah seharusnya ada dananya. Kalau memang tidak ada dana untuk pelaksanaannya, bagaimana kita mau melaksanakan Program Posyandu Lansia. Apa kita harus mengocek dana sendiri? Sampai kapan kita harus menutupi? Sampai kapan kita harus dibodohi?
Memang sudah seharusnya kita loyal terhadap pimpinan, tadi gak konyol kayak gini dong...!!!
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ

Jadi menurut saya sudah saatnya kita menghentikan Program Posyandu Lansia jika tidak ada dananya. Hal ini selain bertujuan untuk mencari tahu, apakah memang untuk Program Posyandu Lansia benar-benar tidak ada dananya? Atau ada dananya tapi diselewengkan oleh orang-orang yang tidak berhak? Nah jika ternyata tidak ada dananya yah.....apa boleh buat? Tapi kalau ternyata ada dananya, maka kebenaran akan terungkap.
Justru saya semakin curiga dengan pihak-pihak yang ngotot untuk dilaksanakannya Program Posyandu Lansia tersebut dengan cara menggunakan dana pribadi ataupun menalangi dana sedikit-sedikit dari Program lain untuk menutupi kebutuhan dana di Program Posyandu Lansia. Ada apa sebenarnya? Apakah ada Udang dibalik bakwan???
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ

Dana pribadi? Berelaan? Please deh ahh....!!! Please don't be stupid. Gak ada orang yang bekerja tapi malah rugi. Jika dikatakan pelayanan sih pelayanan, tapi masa masih harus keluar kocek sendiri? Masalahnya kita 21 desa. Yang ada malah buntung omm......
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ

Wednesday, June 6, 2012

Kendaraan Dinas

Hari ini entah kenapa tiba-tiba di warung didepan Puskesmas kita membahas mengenai Kendaraan Dinas Dokter. Hampir 1 tahun saya bertugas di Puskesmas Lontar sebagai Dokter PTT, ternyata baru saya sadari bahwa saya tidak pernah mengetahui yang mana Kendaraan Dinas saya. Saya sebagai Dokter Umum dan 2 orang Rekan Sejawat saya (satu Dokter Umum dan yang satu lagi Dokter Gigi) juga tidak pernah diberikan Kendaraan Dinas.

Kendaraan Dinas Dokter (Umum dan Gigi) memang tidak ada, atau ada tetapi digunakan oleh orang lain yang tidak berhak atau memang karena kami bertiga cuma berstatus Dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) dan bukan PNS (Pegawai Negeri Sipil) sehingga kami bertiga tidak berhak untuk mendapatkan kendaraan dinas??? Saya tidak pernah mempertanyakan perihal tersebut.
*GakAdaGunanyaJugaKaleeee.....!!!

Jika saya membutuhkan kendaraan, saya tinggal pinjam kendaraan milik PLT Puskesmas atau milik Perawat gigi. Meskipun motor tersebut terkesan butut dan sudah berusia sangat-sangat tua dan sering rusak, tapi sangat membantu saya untuk mobile di sekitar Kecamatan Lontar ini. Walaupun seringkali mogok diperjalanan, tapi saya tetap percaya diri dan tidak malu untuk menggunakan kendaraan tersebut.
Sebab mau bagaimana lagi? Daripada saya harus berjalan kaki....!!!

Yahh.....jika ada pihak-pihak ataupun pribadi yang tergerak hatinya untuk memberikan Kendaraan bekas sekalipun, untuk dipergunakan sebagai Kendaraan Dinas dokter umum maupun dokter gigi, maka kita akan sangat berterimakasih sekali.

*Kasihanilah kami dokter-dokter PTT ini, masa harus jalan kaki atau pinjam-pinjam kendaraan.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ

Dilema Penggunaan Obat Rasional dan Inventaris AlKes (Alat Kesehatan)

Tanggal 30 Mei 2012 s/d 1 Juni 2012 kita mengikuti Pelatihan Penggunaan Obat Rasional di Gedung Ratu Intan, Kotabaru. Pelatihan yang sangat penting sebenarnya, tapi kalau menurut saya secara pribadi akan lebih baik jika tema yang digunakan adalah Sharing Penggunaan Obat Rasional.
Kenapa? Karena menurut saya tidak susah jika harus menerapkan penggunaan obat rasional. Akan tetapi banyak sekali kendala yang mengharuskan kita (terutama Puskesmas Lontar) terpaksa tidak menggunakan obat secara rasional terutama untuk jenis Antibiotik.

Salah satu hal yang menurut pengalaman saya, yang memgharuskan kita menggunakan obat secara tidak rasional adalah Penggunaan Antibiotik.
Penggunaan Antibiotik terutama pada batita hingga anak umur 5 tahun terpaksa langsung kita berikan jika ada yang sakit terutama Gastroenteritis (termasuk diare non spesifik) maupun ISPA. Karena menurut kebiasaan masyarakat disini, bahwa sebelum dibawa ke Puskesmas seringkali si anak sudah diberikan antibiotik oleh orangtuanya (paling sering adalah Ampicillin) dan tidak tertutup kemungkinan sudah diberikan Antibiotik Chloramphenicol ataupun Cotrimoksazole dengan dosis yang tidak tepat sehingga kita terpaksa langsung memberikan Antibiotik.

Kejadian yang sering kita hadapi adalah jika seorang anak sakit baru sekitar 1-2 hari dibawa berobat ke Puskesmas tidak kita berikan Antibiotik, setelah 3 hari kemudian ternyata si Anak belum sembuh, orangtua si Anak tidak akan membawa ulang Anaknya untuk kontrol berobat ke Puskesmas kecuali jika si Anak sudah dalam keadaan yang sangat parah/sekarat dan membutuhkan tindakan Rujuk ke RS

Pada saat Pelatihan kita juga membahas tentang kebutuhan obat di Puskesmas dan permasalahan kelengkapan alkes dan obat-obatan yang sering sekali kurang. Untuk alkes jujur saya sebagai seorang dokter umum sangat membutuhkan Stethoscope yang baik sebagai alat untuk menunjang menegakkan diagnosa. Mudah-mudahan setelah pembahasan ini pihak Dinas Kesehatan akan memberikan Inventaris Alkes yang baik. Saya tidak mengharapkan diberi Stethoscope yang mahal seperti Merk Litmann yang harganya sekitar Rp.800.000 s/d Rp.1.100.000. Tapi setidaknya diberikan Stethoscope yang lumayanlah (Misalnya Merk Spirit), bukan Stetoschope murahan yang nota bene jelas-jelas kualitasnya sangat jauh dibawah standart, yang jika dipakai untuk mengukur Tekanan Darah saja sulit untuk di dengar, terlebih-lebih jika digunakan untuk mendengar Suara Pernafasan.

Jujur saya katakan bahwa stetoscope pribadi saya yang Merk Littmann (Jenis Stethoscope terbaik yang ada di pasaran Indonesia saat ini) sudah rusak di bagian membran karena sudah hampir 1 tahun untuk membantu menegakkan diagnosa selama saya bertugas sebagai dokter PTT di Puskesmas Lontar. Begitu juga dengan Stethoscope milik rekan sejawat saya di Puskesmas Lontar, sudah rusak dibagian membran, dan kita sedang kebingungan untuk usaha memperbaiki Stethoscope tersebut, sebab belum ada kesempatan DL (DinasLuar) untuk pergi ke Kota Banjarmasin.

Dari sekian banyak yang kita bahas pada saat pelatihan, mudah-mudahanlah ada realisasinya. Tidak hanya sekedar cuap-cuap dan omong kosong belaka.
Dan jika ada pihak-pihak ataupun pribadi yang mau membantu kita dalam permasalahan Inventaris Alkes, maka kita akan sangat berterimakasih.

Wednesday, May 30, 2012

Fenomena Pasien Ngeyel

Terkadang lucu sekaligus mengesalkan, jika seorang pasien datang berobat tapi tidak jujur akan keluhan-keluhan dan kronologis perjalanan penyakitnya. Seperti halnya yang akan saya kisahkan disini.
Awalnya dia datang dengan keluhan benjolan di telapak kaki. Menurut pengakuan si pasien, benjolan tersebut sudah pernah dibelah dan di keluarkan isinya oleh salah seorang petugas kesehatan, akan tetapi dia terkesan menutupi siapa petugas kesehatan yang melakukan hal tersebut.
Setelah kita lakukan anamnese lebih lanjut, kita pun agak sedikit bingung akan keterangan pasien yang berbelit-belit. Akhirnya perawat saya mencoba menanyakan alamat si pasien. Dari alamat tersebut kita langsung menebak nama si petugas kesehatan yang telah melakukan tindakan bedah minor tersebut untuk menanyakan kronologis perjalanan penyakit si pasien.
Karena merasa dicurigai, akhirnya si pasien mengakui bahwa sebenarnya bukan petugas kesehatan yang telah melakukan tindakan tersebut, melainkan dia sendiri yang melakukan tindakan bedah terhadap telapak kakinya tersebut.

Dari awal saya sudah curiga, sebab tidak mungkin seorang petugas kesehatan melakukan tindakan bedah minor dengan hasil akhir yang sangat berantakan. Bahkan tidak jarang ada pasien yang memberi keterangan yang terkesan mengadu-domba kita dengan petugas kesehatan lain yang ada di PusTu. Sering memang kita menemukan luka post bedah minor yang bernanah akibat infeksi sekunder ataupun higiene yang tidak baik dari si pasien tersebut dalam merawat lukanya, tapi tidak dengan luka yang hasil akhir yang berantakan seperti ini.

Seringkali hal seperti ini menyebabkan saya lebih memilih untuk mengambil keputusan Rujuk daripada menangani luka tersebut di Puskesmas. Selain memberikan efek jera, saya juga tidak ingin menjadi orang yang dipersalahkan jika ternyata dikemudian hari terjadi komplikasi yang tidak bisa kita presiksikan.

Tapi si pasien sepertinya ngotot, bahkan bertanya kepada saya.
"Apakah di daerah telapak kaki ini banyak pembuluh darah?"
Maka saya jawab "Ada banyak"
Trus dia bertanya "Apa obat yang bisa menghentikan perdarahan?"
Saya jawab "Ada banyak"
"Apa itu obatnya?"
Lalu saya tidak menjawab pertanyaan si pasien. Karena saya curiga bahwa sepertinya ada indikasi kalau dia akan melakukan pembedahan minor sendiri. Maka untuk kasus yang satu ini, saya tidak mau mengambil resiko dan akhirnya saya menolak melakukan tindakan bedah minor dan menyarankan rujuk ke RS.

Friday, May 25, 2012

Hargai Petugas Medis

Tanggal 20 mei kemarin saya mendapatkan sebuah Broadcast Messages di Blackberry saya. Setelah saya baca, ternyata hampir semua, kejadian tersebut saya alami, kecuali Malpraktik dan Kecelakaan Maut saat bertugas. Semoga Tuhan Selalu beserta saya dan dijauhkan dari hal-hal buruk selama saya menjalankan tugas sebagai Dokter PTT di Kab.Kotabaru, Kec.Pulau Laut Barat, Lontar.

Seperti inilah isi Broadcast Messages tersebut.

Hanya sedikit orang, yang mampu ikhlas menerima tudingan malpraktik, meskipun tidak ada yang pernah tahu seberapa berat dia bekerja tanpa tidur, sebelum akhirnya dia melakukan kesalahan yang mungkin sebenarnya manusiawi untuk seorang manusia biasa yang bisa lelah, tapi tidak boleh dilakukan seorang tenaga kesehatan yang haruslah seperti malaikat yang tanpa cela.

Hanya sedikit manusia, yang mampu menahan lelahnya dan dibangunkan tengah malam, karena setiap orang sakit, meskipun itu hanya gatal-gatal, adalah pasien darurat yang harus ditangani saat itu juga.

Hanya sedikit manusia, yang mampu bersabar saat menerima pasien, yang mungkin sudah membayar berpuluh - puluh atau bahkan ratusan juta ke pabrik rokok untuk membeli penyakit, tapi tidak mau mengeluarkan sepeser pun untuk membayar pengobatan, malah menuduh tenaga kesehatan itu adalah makhluk penghisap darah yang mencari keuntungan dari penderitaan orang lain, tanpa sadar pihak mana yang sebenarnya mengambil keuntungan dan membuat dia sakit seperti itu.

Hanya sedikit orang, yang mampu bekerja di klinik swasta, dengan honor ribuan bahkan ratusan rupiah per pasiennya, tapi dapat dituntut ratusan juta apabila terjadi alergi obat (yang kalau dilihat komponen katanya adalah “alergi” yang berasal dari kekebalan tubuh pasien dan “obat” yang diproduksi oleh pabrik obat, tenaga kesehatan sendiri bisa dibilang hampir tidak punya peran dalam alergi obat tersebut).

Hanya sedikit orang, yang bisa menerima keadilan media, dalam memberitakan kasus dugaan malpraktek secara besar - besaran, sementara saat tenaga kesehatan meninggal tenggelam saat bertugas ke pedalaman, terserang penyakit menular, hanya ditulis di kolom kecil yang pasti tidak menarik perhatian.

"Hargai Petugas Medis"

Friday, May 18, 2012

Sarana Transportasi Kecamatan Lontar

Bisa dikatakan, Kecamatan Lontar adalah kecamatan yang paling ramai diantara kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Kotabaru. Tapi jika ingin menuju ke kecamatan ini, sebaiknya persiapkan kendaraan anda dengan baik. Sebab medan yang anda lalui adalah lumpur dan lobang yang kedalaman bisa mencamai 50 cm - 100 cm. Oleh karena itu kendaraan sejenis sedan, sangat tidak disarankan untuk digunakan di daerah ini. Untuk angkutan umum, biasanya pemilik kedaraan telah memodifikasi kendaraannya menjadi lebih tinggi. Jenis kendaraan yang digunakan sebagai angkutan umum Lontar-Kotabaru adalah mobil Daihatsu Pick-Up yang dimodifikasi sedemikian rupa. Sedangkan untuk angkutan umum Lontar-Banjarmasin adalah angkutan jenis Mini Bus yang hanya beroperasi setiap hari minggu.

Kondisi jalan memang sangat memprihatinkan, terutama jalan yang menghubungkan Kotabaru-Lontar. Mengingat jalur darat adalah satu-satunya akses untuk keluar-masuk Kecamatan Lontar, jadi permasalahan ini merupakan hal yang memerlukan perhatian khusus dari pemerintah. Memang sudah ada beberapa perbaikan di sana-sini. Tapi perbaikannya terkesan asal-asalan dan tidak serius, seperti istilah yang dipakai penjahit pakaian, yaitu "Sulam-Tambal"

Mudah-mudahan pihak pemerintah lebih serius lagi untuk mengatasi permasalahan ini. Yah.....kita berdoa sajalah.
Berdoa.....berdoa.....dan berdoa.....

Thursday, May 17, 2012

Fenomena SKTM

SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu)

Apakah ini sebuah fenomena atau cuma sekedar kebiasaan turun-temurun yang mengandung unsur politik??? Entahlah....!!! Yang pasti di Kecamatan Lontar, SKTM seolah-olah sedang mem-booming seperti pada saat pertamakali kemunculan BoyBand-SM*SH. Banyak yang mencibir, akan tetapi justru mereka jualah yang menikmatinya.
HaHa【ツ】HaHa【ツ】HaHa【ツ】HaHa. *LemparPakePupukKandang......

Hampir semua orang di Kecamatan Lontar yang berobat ke Puskesmas, selalu menggunakan fasilitas SKTM. Banyak diantara mereka termasuk dalam golongan Ekonomi Menengah ke atas, tapi tetap mendapatkan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu /Miskin). Fenomena ini cukup menggelitik bagi saya, meskipun tidak saya pungkiri juga bahwa banyak di antaranya yang benar-benar dari golongan tidak mampu/miskin dan pantas untuk mendapatkan SKTM tersebut.

Seperti saya alami baru-baru ini di Puskesmas Rawatan Lontar. Seorang pasien dgn inisial Tn.K dari desa G.P dirawat di Puskesmas Perawatan Lontar dengan status SKTM/Miskin. Keesokan harinya salah seorang keluarga pasien menemui saya dan memohon agar diberikan obat-obat yang paten/bagus. Lalu saya menolak permintaan tersebut dan mengatakan permintaan untuk menggunakan obat paten (obat-obatan diluar dari yang disediakan Puskesmas) hanyalah untuk pasien umum yang mampu (bayar) kalau untuk pasien miskin/SKTM hanya diberikan obat-obatan yang tersedia di Puskesmas.

Keesokan harinya lagi keluarga pasien yang lainnya menemui saya dan mengatakan agar pengobatan si pasien di gunakan obat-obatan paten saja, dan status miskin/SKTM tersebut diabaikan saja. Karena malas menghadapi tingkah pasien yang seperti ini, saya sarankan dia untuk berkonsultasi dengan perawat saya.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Untung saja perawat saya tersebut sepikiran dengan saya. Pada saat dia mengutarakan keinginannya kepada perawat saya, maka si perawat menjawab.
"Maaf pak tidak bisa. Ini artinya anda bermain-main dengan SKTM/Surat Miskin ini. Jika anda mampu, kenapa sejak awal anda menggunakan surat keterangan miskin ini? Ini artinya anda mempermainkan kami (Puskesmas Lontar). Di sini ada tandatangan kepala desa dan diketahui oleh Camat. Anda bisa saya laporkan telah menyalahgunakan Surat Keterangan Miskin/SKTM ini"

Aneh......bin ajaib memang. Kok bisa yah....SKTM ini sangat mudah diperoleh. Ditandatangani oleh Kepala Desa dan diketahui oleh Camat pula. Apakah untuk memperoleh Surat Miskin/SKTM, tidak ada perifikasi yang jelas dan konkrit tentang kriteria keluarga yang miskin/tidak mampu?
Saya mengatakan hal ini, sebab bukan cuma kali ini saja hal ini terjadi, tapi sudah sering sekali. Bahkan salah satu keluarga di Desa L.U yang sudah jelas-jelas dari keluarga sangat mampu pun menggunakan surat miskin/SKTM tersebut pada saat mendapatkan perawatan di Puskesmas Lontar.

Untuk permasalahan ini sebaiknya perlu diberikan pengarahan, pembelajaran ataupun bila perlu pelatihan/penataran kepada pihak-pihak terkait. Mungkin banyak yang menutup mata dengan kejadian ini, tapi saya tidak. Entah itu alasannya berbau Politik ataukah SARA (Suku-Ras-Agama) ataupun Kolusi-Nepotisme, saya tidak perduli.
Dan untuk masyarakat Pulau Laut Barat, Sebaiknya kita harus membudayakan prinsip "Malu Miskin"
Miskin itu bukanlah suatu kebanggaan, meskipun dengan status miskin itu membuat kita akan menerima santunan, bahkan belaskasihan oranglain.
Miskin itu bukanlah suatu kebanggaan, meskipun dengan status miskin kita akan menerima pengobatan/perawatan gratis di Puskesmas.
Tanah kita tanah yang kaya, hasil laut kita melimpah-ruah. Mari kita buang sikap malas. Rajin dan giatlah bekerja, dan budayakan Malu Miskin.

Sunday, May 13, 2012

Layanan Operator Selular di Kecamatan Lontar

Jaringan ataupun signal untuk layanan telekomunikasi di kecamatan lontar bisa dibilang tidak begitu baik. Untuk lebih jelasnya, kita akan bahas satu per satu sebatas yang saya ketahui berdasarkan pengalaman saya.

TELKOMSEL
Untuk operator yang satu ini, yang katanya di iklan-iklan telah menjangkau seluruh tanah air bahkan sampai ke pelosok. Tapi tidak untuk tanah Borneo. Seperti hal nya di kecamatan Lontar. Untuk sekedar telepone ataupun sms, jaringan operator ini cukup bisa untuk di andalkan. Akan tetapi untuk layanan internet dan blackberry, layanan operator yang satu ini sangat lelet dan mengesalkan. Saran saya anda tidak menggunakan layanan operator ini di daerah lontar untuk koneksi ke dunia maya ataupun layanan blackberry services.

XL
Sedikit ledih baik jika dibandingkan dengan telkomsel, untuk urusan surf ke dunia maya ataupun layanan blackberry services. Cuman terkadang ada leletnya juga, dan cukup mengesalkan jika hal ini terjadi di saat-saat urgent ataupun penting.

INDOSAT.
Jaringan indosat terutama im3 adalah jaringan yang paling baik. Lebih cepat dan tidak lelet. Akan tetapi ada beberapa kendala. Jaringan indosat di lontar ini, terutama jaringan Lontar-2 sering sekali mengalami kerusakan. Pernah sinyal sampai hilang total (SOS) selama 3x24 jam. Dimana kita benar-benar gak bisa berbuat apa-apa lagi. Meskipun jarang terjadi kerusakan yang cukup serius seperti hal yang tadi saya katakan, jaringan indoast cukup sering kehilangan jaringan (SOS) akan tetapi paling cuma beberapa jam, trus nanti bagus lagi. Kalau sudah begini, biasanya kita memiliki kartu cadangan untuk koneksi ke internet, dan biasanya kita lebih memilih operator XL di saat-saat seperti ini.
a

Thursday, May 3, 2012

Kecamatan Pulau Laut Barat / Kecamatan Lontar

Kecamatan Lontar, tepatnya sering di sebut sebagai Kecamatan Pulau Laut Barat. Merupakan wilayah dari Kabupaten Kotabaru, Propinsi Kalimantan Selatan. Kecamatan ini memiliki 21 desa dan 1 Puskesmas perawatan inap, menjadikan Puskesmas ini sangat ramai dikunjungi pasien.
Mayoritas penduduknya adalah muslim hampir sekitar 99,6% dan kristen sekitar 0,3-0,4% dari berbagai macam suku. Suku yang mayoritas adalah Suku banjar sekitar 35%, suku mandar sekitar 30%, suku bugis sekitar 20%, suku jawa sekitar 10% dan batak, toraja, manado, chinese dll sekitar 5%.

Kecamatan ini memiliki 1 buah Puskesmas yang berstatus sebagai Puskesmas Perawatan dan melakukan pelayanan kesehatan terhadap 21 desa. Sebenarnya jika dipikirkan secara logika, baik dari jumlah penduduk maupun luas wilayah serta jumlah desa, kecamatan ini seharusnya memiliki 2 buah Puskesmas, yaitu 1 Puskesmas Perawatan inap dan 1 Puskesmas Rawat Jalan. Seperti hal nya dengan kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Kotabaru ini.
Misalnya :
1. Kecamatan Pamukan Utara
2. Kecamatan Pamukan Selatan
3. Kecamatan Sungai Durian
4. Kecamatan Sampanahan
5. Kecamatan Kelumpang Tengah
6. Kecamatan Kelumpang Hulu
Dan masih banyak lagi kecamatan lainnya yang sudah punya 2 buah puskesmas.

Sebenarnya Kecamatan Pulau Laut Barat/Kecamatan Lontar ini sudah sepantasnya di bangun 1 lagi Puskesmas Rawat Jalan. Kita tidak terlalu membutuhkan jika sarana kesehatan yang ada di perbesar ataupun dibangun menjadi gedung bertingkat dan mewah.
Tidak....!!! Kita tidak butuh itu. Yang kita butuhkan adalah memperluas jangkauan sarana kesehatan sampai ke pelosok dan daerah sangat-sangat terpencil, yaitu  dengan cara dibangunnya Puskesmas lagi di daerah yang jaraknya cukup jauh dari Puskesmas yang sudah ada sebelumnya.
Tapi saya tidak tahu pasti apa yang menyebabkan kecamatan yang satu ini seolah-olah di anak-tirikan. Dianak tirikan oleh siapa? Saya pun tidak tahu pasti. Oleh Dinas Kesehatan kah? Atau Pemerintah Daerah kah? Atau Oleh saya kah?
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ

Tapi apapun dan siapa pun itu, yang pasti kita tetap melaksanakan pekerjaan kita sebagai tenaga kesehatan dan melaksanakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, meskipun seringkali kita kewalahan baik dari segi jumlah tenaga kesehatan maupun dana.

Kiranya pihak-pihak terkait segera sadar dan perduli tentang apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh masyarakat di Pulau Laut Barat ini adalah dibangunnya 1 lagi Puskesmas/Sarana Pelayanan Kesehatan, baik itu cuma sekedar Puskesmas rawat jalan.

Tuesday, May 1, 2012

Puskesmas Lontar


Puskesmas Lontar, tepatnya berada di Desa Lontar Timur, Kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten Kotabaru, Propinsi Kalimantan Selatan. Puskesmas berstatus Rawatan Inap ini membawahi 21 desa, menjadikan Puskesmas ini sangat ramai dikunjungi pasien.

Hampir setiap hari kesibukan meramaikan aktivitas di Puskesmas ini, meski tidak dipungkiri bahwa tidak sedikit yang cuma bermalas-malasan dan bersikap tidak perduli dengan rekan kerjanya yang kewalahan dengan pekerjaan dan tugas di Puskesmas ini. Meski begitu, bukan berarti saya adalah sosok seorang yang sempurna di lingkungan pekerjaan, tapi setidaknya saya tahu kapan saat yang tepat untuk bermalas-malasan, kapan harus serius bekerja dan yang paling penting adalah kapan saat yang tepat untuk kabur dan refresing untuk melepaskan diri dari segala kepenatan.

Maaf.....saya terpaksa pakai istilah "Kabur" karena sebenarnya sebagai Dokter PTT kita tidak di perbolehkan meninggalkan tugas sesuai dengan Surat Pernyataan Ber-Materai yang kita tanda-tangani pada saat mendaftarkan diri sebagai Calon Dokter PTT.
Tapi Dokter PTT juga manusia. Meski di gaji dan di beri Insentif yang lumayan besar, kita juga manusia yang punya rasa lelah dan muak dengan segala kesibukan dan kepenatan ini. Jadi sudah sepantasnya kita di beri ijin refresing dan melepas semua kepenatan di lingkungan pekerjaan.
Setidaknya dalam 1 bulan diberi ijin 3 hari + 2 hari untuk perjalanan Pulang-Pergi. Tapi karena kita di perlakukan seperti robot dan di beri ijin maksimal cuma 3 hari, makanya kita sering bermain kabur-kaburan.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ

Selama bertugas di Puskesmas lontar, sudah terjadi 3 kali pergantian kepemimpinan. Ini semua diakibatkan karena kita semua sangat sulit untuk diatur dan dipimpin. ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ.
Jauh sebelum saya bertugas di Puskesmas ini, saya tidak tahu bagaimana sistem kepemimpinan di Puskesmas ini. Yang saya tahu adalah semenjak saya bertugas di Puskesmas ini, bahwa Pengorganisasian Pemegang Program serta mekanisme kerja lainnya tidak pernah jelas.

Seperti saya alami sendiri di bagian Poliklinik, Unit Gawat Darurat serta Perawatan inap, bahwa mekanisme dana Askes, SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) serta Jamkesmas tidak pernah jelas. Alhasil selama Tahun 2011 kita (dokter dan perawat) tidak pernah mendapat honor dari merawat pasien Askes dan SKTM baik itu rawat jalan maupun rawat inap. Padahal segala persyaratan kita sudah lengkapi, mulai dari Fotocopy SKTM, KTP dan Kartu Keluarga.
Pasien-pasien tidak mampu yang menggunakan fasilitas SKTM yang seharusnya kita rujuk tanpa meminta uang sepeser pun, terpaksa tetap kita tagih sejumlah uang untuk membeli bahan bakar, jasa supir dan jasa perawat pendamping rujukan.

Salah satu dilema paling berat yang saya rasakan adalah pada saat ada pasien yang di rawat inap di puskesmas. Sebenarnya saya sangat berat menerima pasien untuk dirawat di Puskesmas Rawatan ini dan sebisa mungkin mengusahakan agar si pasien segera di rujuk ke Rumah Sakit terdekat. Akan tetapi, jikalau si pasien menolak di rujuk dan memilih tetap di rawat di puskesmas, yah......apa boleh buat. Terpaksa saya terima segala tantangan ini dengan lapang dada.
Maas jika saya harus memakai kata "Tantangan" ini semua ada alasannya.
Begini......!!!!
Semua perawat yang bertugas di Puskesmas Rawatan ini, tidak ada seorang pun yang tinggal dan berdiam di Rumah Dinas. Alhasil jikalau ada pasien yang dirawat inap, maka dokter yang tinggal di Rumah Dinas akan direpotkan dengan keluhan-keluhan pasien yang seharusnya menjadi tanggung jawab perawat, seperti mengganti cairan infus yang habis ataupun macet karena adanya gumpalan darah serta jadwal obat suntikan tengah malam.. Belum lagi jikalau ternyata tengah malam ada pasien baru ataupun ada pasien rawat inap yang kejang/sesak, maka dokter terpaksa bekerja sendiri tanpa bantuan perawat. Wah.....kasihan sekali yah.....dokter di Puskesmas ini.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ. Terkadang memang saya suka lebay.

Yah.....begitulah yang saya alami selama bertugas di Puskesmas Lontar ini. Jadi untuk sejawat-sejawat sekalian yang akan bertugas di Puskesmas ini, kira-kira sudah ada sedikit gambaran lah buat sejawat sekalian.

Monday, April 30, 2012

Tragedi Tunjangan Profesi Dokter PTT Kabupaten Kotabaru - Kalimantan Selatan

Tunjangan Profesi cair......Tunjangan Profesi cair.....Tunjangan Profesi cair......
Kayanya semua dokter PTT bakalan bersorak nih. Apalagi mengingat janji Sang Pemerintah Daerah mengatakan :
"Tahun 2011 tunjangan dokter PTT dipotong 50% dan akan akan di naikkan/dikembalikan seperti semula pada tahun 2012"

Akan tetapi saudara-saudara sekalian.......Janji tinggallah janji. Mimpi sejawat sekalian dokter PTT di Propinsi Kalimantan Selatan, Kabupaten Kotabaru ibarat pupus di hempas ombak badai.
Kayanya saya pribadi sendiri ingin cepat-cepat kabur dari kabupaten ini dan pindah ke kabupaten lain. Secara.......kabupaten kotabaru, Kalimantan Selatan ini adalah kabupaten yang paling jauh dari Ibukota Propinsi (Banjarmasin) dan wilayahnya sangat susah di jangkau transportasi serta fasilitas listrik yang cuma 12 jam/hari dan itupun masih seringkali terjadi pemadaman bergilir. Berbeda dengan kabupaten lainnya yang listrik 24 jam/hari serta akses jalan yang lancar dan mulus seperti jalan tol serta tidak memerlukan transportasi laut yang membahayakan jiwa dan tunjangan profesi dokter PTT nya lumayan besar.

Untuk menuju kotabaru dari banjarmasin harus naik kendaraan darat + naik kapal ferry dan kalau berangkat jam 8.00 malam dari banjarmasin, maka akan tiba di kotabaru jam 7.00 keesokan harinya. Setelah sampai di kotabaru para dokter PTT akan disebar ke kecamatan yang mana hampir 75% wilayahnya harus menggunakan transportasi Kapal Laut yang sebenarnya tidak layak untuk dikatakan sebagai kapal angkutan penumpang. Karena sebenarnya kapal ini adalah kapal angkutan barang, yang dialihfungsikan menjadi angkutan penumpang yang tidak memenuhi standart keselamatan.
Pokoknya ibarat mendaki gunung lembah berkubang lumpur + menyeberangi lautan luas dengan kapal yang tidak jelas status keselamatannya dan sangat beresiko.
Untungnya Kecamatan tempat saya bertugas hanya memerlukan satu kali penyeberangan dengan menggunakan Kapal Ferry kemudian dilanjutkan dengan angkutan darat selama 4 jam. Berbeda dengan teman-teman saya yangmasih melanjutkan perjalanan dengan Kapal Barang selama 10 - 12 jam

Pada tahun 2011 tunjangan itu dipotong 50% dengan iming-iming tunjangan akan dikembalikan seperti semula.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Kasihan yah.....kita.

Pada tahun 2010 tunjangan profesi dokter PTT adalah Rp.100.000/hari, dan kalau di kalikan 25 hari kerja maka akan dapat Rp.2.500.000/bulan. Saya rasa cukuplah untuk biaya hidup di desa untuk 1 bulan. Jadi untuk teman_teman saya yang jauh di seberang tidak perlu lagi menempuh resiko naik kapal darurat ke kabupaten/kotabaru untuk mengambil uang ke bank untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Akan tetapi semenjak tahun 2011 sampai dengan sekarang, tunjangan dokter PTT turun/dipotong sebesar 50%.

Akhir kata, kita terpaksa ikut saja dengan apa yang telah diputuskan oleh Kepala Daerah. Soalnya kalo enggak, kita bisa di depak dari kabupaten ini. ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ
Dan setelah selesai masa bakti ini, kita dan teman-teman sepakat untuk tidak memperpanjang Kontrak PTT di kabupaten ini.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ

Sunday, April 15, 2012

The Gembel Story is InTheHouse

Pagi itu kita bangun dan pengen buru-buru pergi, sebelum sang dewi durga bangun dari semedi-nya. Tapi.....yang namanya panggilan alam, gak bisa di tolak. Hasrat ingin pup menghapus rasa gentar menghadapi sang dewi.
Setelah menyalurkan hasrat ingin pup, kita buru-buru beberesan.
*Anggap aja setelah menginap semalam di Hotel Kartika Husada Bintang-7 dengan bayaran setara dengan Harga Diri, kita kasi bonus se-onggok pup lengkap dengan wangi aroma therapi.
He..he..he..he..he...

Buru-buru deh kita turun ke lobby, nentengin 5 biji Travel Bag yang segede kontainer sambil menatap cuek.
Sebenarnya sih.....kita harusnya menahan rasa malu, karena sudah membayar biaya menginap malam ini pake harga diri plus bonus pup lengkap dengan aroma therapi-nya. Tapi....seperti yang gue bilang kemnarin, sebagai Manusia Setengah Dewa *Merangkap pengemis dan bentar lagi di Upgrade jadi Gembel. Kira itu punya Pamor yang limitless.....!!! *Catet yah...bahwa gak semua orang seberuntung kita, dilahirkan dengan takdir itu.
So......WhatEver gitu deh....cyiii...innn....

Sebelum Capcuzzz.....kita sarapan dulu boooww.......
Lokasinya, tetep di area parkiran Hotel Kartika Husada yang berbintang 7 itu loh, yahh.......beda tipis lah dengan Burj Al Arab hotel super mewah yang ada di Dubai. *Gubrakkk.....!!!
Sarapan pake Nasi Soto + Bakwan goreng *Namanya juga merakyat, sarapan pagi juga mesti merakyat.

Abis sarapan kita Come-on dan tetep........Angkot. Iya....naik angkot dong. Enggak perlu heran atuh, angkot itu Limosin ala-ala gembel loh..!!! Yah.....cuma perlu sedikit di upgrade di bagian body aja. *Hehehehe.....narsis ala gue ini pasti jadi umpatan kaum borjuis sekelas Paris Hilton and I don't Care....

Akhirnya setelah beberapa kali ganti angkot dan bus umum, sampailah kita di sebuah kompleks perumahan yang disebut Pulo Mas di Jakarta Timur. Disini kita punya pengalaman baru, seru dan tetep.....makin membawa kita tenggelam dalam Liburan ala-ala pengemis.

Friday, April 13, 2012

Tragedi Hotel Bintang 7

Libur.....libur.....libur......!!!
Jalan-jalan.......!!! Jekardah i'm coming. Bandung......see you soon.....!!!

Seperti mimpi deh, tapi kejadian itu masih sangat jelas dalam benakku. Seperti nonton pake layar Full High Defenition 3D + Full Double Dolby Sound.

Gak tau apa yang menjadi penyebab murka-nya si mbak-yu yang Cantik Jelita. Pada saat pertama kali nyampe, sambutannya udah gak enak banget. Ibarat nasi tadi malam dijadikan nasi goreng buat sarapan pagi, gak habis, trus dipanasin lagi buat makan malam.
Tapi kita tetap SlowDownBaby.....kali aja lagi sensitif dan perlu waktu buat menenangkan diri. *Cup...cup...cup....elus-elus pake cerokan toilet. ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ 

Kita masih tetap sabar sampai malam tiba. Eh....kita tetap di cuekin. Gue gak terlalu di cuekin sih, dan gue bukan salah satu orang yang dijadikan sasaran kemarahan oleh sang dewi durga. 
Secara gue....baik hati dan setia kawan. 
*Kawan...!!! Catet yah...!!! Ka-A-We-A-En......KAWAN dan bukan Es-A-Ha-A-Be-A-Te.....SAHABAT.
Maka itu gue memposisikan diri dalam kelompok, tapi tetep....dong.
WhatEver gitu lho....!!!
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ 
*LetsPartyBaby.....Puts your hands up....Puts your hands up....Puts your hands up.....Puts your hands up.....

Tapi yang namanya kita-kita manusia setengah dewa, dengan intelijensi tingkat tinggi dan pamor yang Limitlesss, kita punya batas kesabaran tentunya cyii...iinnn. 
Apalagi kalau diperlakukan kayak gini. Seolah-olah kita ini pengemis yang paling malang sedunia Till The End of The World, memohon sambil memelas, mengharapkan belas kasih sambil mencium kaki bau belerang yang jari-jarinya jempol semua. 

Stop....stop....stop...!!! 
Tau gak si loe, kita bukan pengemis. Kita cuma gembel. Catet yah....!!! Ge-E-Em-Be-E-El.....GEMBEL, not PENGEMIS.

So........???
Tiba-tiba, buto ijo nongol dan............
Braa...aaakkk.....!!! *Suara pintu di dorong dengan kasar dan keras.

"Kalau kalian gak masuk, aku yang keluar dari sini"

Ya owlloooh.....
Oke...!!! Kalau gitu kami yang keluar. Malam ini juga

"Gak boleh.....!!!
Pokoknya gak boleh."

Gak...!!! Kami bukan siapa-siapa disini. Yang kerja di sini itu, kamu. Kami ada disini itu karena kamu pegawai di sini.
Jadi, biar kami yang keluar. Malam ini juga....!!!

"Gak...!!! Pokoknya aku gk ngasih....!!!

Awas kau....!!! Aku mau keluar dari sini. 

"Pokoknya aku gak ngasih...!!! Gak boleh"

*sigh
Pleaseee......deh ah. Aneh banget ngeliat nih sosok manusia. Gak ngerti deh....dengan jalan pikirannya.

Tiba-tiba terdengar suara malaikat yang lembut. Selembut kain Songket Sutra yang disetrika pake pelembut trus di blow pake avocado extract. Surga itu seperti cuma tinggal nyebrang jalan, bayar parkir, sampe deh. Kalo begini, gak sia-sia deh beli album rohani sampai 4 album tadi siang.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ 

*Di iringi nyanyian deru nafas menahan emosi, sang malaikat yang gak bisa terbang karena OverLimitBagasi berkata : 
Kenapa elooo gak ngasi kami pergi?

"Aku udah terlanjur malu. Harga diriku udah terlanjur jelek. Lagian kalau mau pergi, kenapa gak dari tadi kalian pergi" 

Ooow....oow....oow....oow....Hellooowww.....!!! 
Harga diri loe..??? 
Maksud loe..!!! 
Emang siapa yang dari tadi teriak-teriak sampai 8 oktaf...??? *Ngalah-ngalahin pariban gue Mariah Carey.
Siapa yang dobrak pintu sambil tolak pinggang..??? *Kaya Tragedi Xenia versus Anak Playgroup di Tugu Tani. 
Siapa yang buru-buru pergi..??? Kaya Pantung Pancoran yang lagi kebelet pipis?

Oooohh....my gosh....
Tiba-tiba gue nyadar, ternyata kehadiran gue seharian ini gak diharapkan. Kepedean banget yah gue...!!!
Eh...malah pake numpang mandi, bobok dan pake nitip barang gue yang banyaknya satu kontainer.
ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ【ツ】ƗƗɐƗƗɐ 

Intinya : 
Malam ini kita tidur di sebuah tempat yang enggak banget deh. Bahkan mimpi buruk gue rasanya kaya di upgrade sampi ke level High-End or Dangerous 
Dan yang paling miris adalah, semua itu harus di bayar dengan harga diri. 
Alhasil......liburan ini mensyahkan kita jadi pengemis.
*PengemisBergaya.

Monday, March 26, 2012

Kemiskinan di Kab. Kotabaru - Pulau Laut Barat. Kecamatan Lontar

Kemarin malam pukul 20.30 WITA, saya dipanggil ke rumah pasien yang letaknya tidak jauh dari Puskesmas Lontar, tmpat saya bertugas sebagai dokter PTT. Hanya sekitar 100 meter dari belakang kompleks Rumah Dinas. Ditemani oleh seorang Apoteker yang sekaligus menjabat sebagai Plt.Ka.Puskesmas Perawatan Lontar, akhirnya kita berangkat menuju rumah si pasien.

Dari anamsese yang saya lakukan, maka DS/ saya adalah Tumor Ganas Hodgkin dan ada sedikit kecurigaan ke arah Nasofaring Carcinoma. Tapi saya tidak begitu yakin dengan Diagnosa Sementara yang saya berikan, diakibatkan minimnya informasi yang saya dapatkan dari pasien sendiri maupun keluarga pasien.
Pasien tersebut sudah tidak dapat berbicara, maupun menelan makanan akibat benjolan di sekitar leher bagian bawah telinga kanan, dan hal ini sudah dialami selama 1 bulan lebih sehingga si pasien menjadi kurus kering dan terbaring lemas karena tidak makan selama 1 bulan lebih.
Mata kanan juga sudah tidak dapat melihat dan menonjol keluar dan suara nafas pada paru-paru kanan menjadi lebih redap jika dibandingkan dengan paru kiri. Apakah hanya sekedar gejala klinis ataupun komplikasi, tapi besar kecurigaan saya sel kanker sudah menyebar ke mata kanan dan paru kanan.

Saya sarankan kepada keluarga pasien agar si pasien di Rujuk ke RSUD Kotabaru untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, tapi sebelumnya kita rawat dulu di puskesmas untuk memperbaiki keadaan umum si pasien agar selama dalam perjalanan ke Kotabaru, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah kita pasang infus, saya dan perawat menyarankan untuk mempersiapkan barang-barang yang diperlukan selama di Kotabaru. Karena keluarga pasien menyatakan bahwa mereka tidak punya uang dan tidak mampu secara finansial untuk membawa si pasien ke RSUD Kotabaru, maka kita dari pihak Puskesmas, menyarankan untuk mempergunakan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) sebagai prasyarat sebelum mendapatkan perawatan di RSUD Kotabaru, serta kelengkapan lainnya seperti KTP dan Kartu Keluarga.

Saat berembuk di ruang tunggu, saya mendengar sepertinya keluarga pasien sedikit keberatan pasien di rujuk untuk mendapat penanganan lebih lanjut di RSUD Kotabaru dikarenakan permasalahan biaya transportasi, makan dan keperluan lain selama di RS. Akan tetapi kami memberikan kesempatan kepada keluarga pasien untuk berunding dan besok pagi harus sudah ada keputusan. Sebelumnya saya menegaskan kepada keluarga pasien bahwa kami (Puskesmas Lontar), bukan bermaksud mengusir pasien, tetapi ingin agar si pasien mendapatkan penanganan lebih lanjut secepatnya. Dan jikalaupun keluarga pasien menolak untuk di Rujuk Ke RSUD Kotabaru dan memilih untuk tetap di rawat di Puskesmas Lontar, kami juga tidak bisa menolak dan dengan terpaksa keluarga pasien harus menandatangani Surat Penolakan Rujukan dan kami pun akan merawat si pasien dengan fasilitas dan peralatan seadanya.

Pukul 03.20 WITA dini hari, saya dibangunkan keluarga pasien, katanya selang infusnya lepas dan mengeluarkan darah. Saya segera ke Puskesma dan memeriks keadaan selang infus. Ternyata selang infus telah telah tersumbat bekuan darah dan tidak dapat dipergunakan lagi, terpaksa selang infus saya lepas beserta dengan abocate nya.
Lalu saya ingin memasang infus baru, tapi sebelumnya saya meminta ijin lebih dulu kepada pihak keluarga pasien. Namun keluarga pasien tidak bersedia dan memilih untuk pulang pada saat itu juga dangan alasan, sudah agak baikan dan tidak bisa tidur nyenyak di Ruang Perawatan serta kendala keuangan yg tidak memungkinkan untuk di Rujuk ke RSUD Kotabaru. Karena dalam keadaan mengantuk berat dan tidak ingin berdebat dengan keluarga pasien, akhirnya saya pun mengijinkan si pasien untuk dibawa pulang dengan berpesan sebelumnya, kalau ada apa-apa segera datang ke Puskesmas.

Rasanya kesal, marah dan ingin berteriak. Sepertinya semua yang kita lakukan sia-sia. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan terhadap si pasien di rumah. Apakah dibiarkan begitu saja atau diberikan pengobatan tradisional (Ramuan-ramuan lengkap dengan jampi-jampi nya) sayapun tidak tahu. Kira-kira apakah mereka akan tersinggung jika saya mencoba untuk mencari tahu..!!! Tapi itu semua kita kembalikan kepada si pasien dan keluarganya. Meskipun si pasien ingin sekali agar segera dibawa ke RSUD Kotabaru, tapi karena terbaring lemah dan tidak berdaya, dia pun hanya bisa pasrah dengan keputusan yang diambil oleh keluarganya.

Beberapa hal yang saya tangkap dari sini adalah, keluarga terlalu cepat menyerah terhadap kemiskinan tanpa berusaha lebih dahulu.
Miris sekali memang....!!! Di tanah Borneo yang kaya ini. Kaya akan hasil tambang, hasil hutan dan sumberdaya kelautan yang tidak terbatas ini, masih banyak kemiskinan dan kebodohan yang membelenggu rakyat bangsa kita.

Saturday, March 24, 2012

The New Beginning

Catatan ini akan berisi pengalaman-pengalaman saya selama melaksanakan tugas sebagai dokter PTT Pusat di Kecamatan Lontar, kab.Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Banyak pengalaman-pengalaman yang seharusnya saya abadikan dalam catatan ini. Meski sedikit terlambat untuk menuliskannya dalam blog catatan saya, tapi tetap tidak ada kata terlambat daripada tidak sama-sekali.
Inilah pengalaman saya, dr.Sandi Andri Butarbutar.
Alumni dari FK-Univ.Methodist Indonesia, Medan - Sumatera Utara.